JAKARTA – Kementerian Perdagangan mencatat harga referensi biji kakao untuk Maret 2026 anjlok drastis hingga 29 persen akibat permintaan global melemah, sementara pasokan tetap tinggi.
Petani memilah biji kakao di Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Rabu (23/9/2020). (ANTARA/Siswowidodo)
Tommy Andana, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, menjelaskan HR biji kakao periode Maret 2026 ditetapkan sebesar 4.047,45 dolar AS per metrik ton (MT), turun 1.669,99 dolar AS atau 29,21 persen dibanding periode sebelumnya.
Penurunan HR ini langsung memengaruhi harga patokan ekspor (HPE) biji kakao menjadi 3.722 dolar AS per MT, merosot 30,44 persen atau 1.628 dolar AS dari periode sebelumnya.
“Turunnya HR dan HPE biji kakao dipengaruhi turunnya permintaan yang tidak diimbangi peningkatan pasokan seiring membaiknya produksi di negara produsen utama seperti Pantai Gading,” tegas Tommy.
Bea keluar (BK) biji kakao periode 1-31 Maret 2026 tetap 7,5 persen sesuai PMK Nomor 38 Tahun 2024 jo. PMK No. 68 Tahun 2025, sementara pungutan ekspor (PE) juga sebesar 7,5 persen merujuk PMK Nomor 69 Tahun 2025.
HPE produk kulit dan sejumlah kayu olahan utama tidak mengalami perubahan dibanding bulan sebelumnya, sedangkan komoditas getah pinus mengalami kenaikan HPE menjadi 903 dolar AS per MT, naik 42 dolar AS atau 4,88 persen dari Februari 2026.
Sementara itu, HPE kayu veneer dari hutan alam maupun hutan tanaman, kayu lapis untuk kotak kemasan, serta kayu olahan berbagai jenis seperti meranti, eboni, pinus, gmelina, akasia, sengon, karet, balsa, eukaliptus, dan sungkai mengalami kenaikan harga ekspor.
Namun, HPE kayu olahan khusus jenis merbau dengan luas penampang 4.000-10.000 mm² dari jenis jati justru menurun, mencerminkan dinamika pasar yang terus bergerak mengikuti permintaan dan penawaran global.***