JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran meluncurkan serangkaian rudal balistik ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Yordania. Serangan itu disebut Teheran sebagai aksi balasan atas operasi militer gabungan AS–Israel terhadap target-target di Iran, namun justru memicu gelombang kecaman dari negara-negara Teluk yang merasa kedaulatannya dilanggar.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam pernyataan resminya “mengutuk dan mengecam dengan sekeras-kerasnya agresi terang-terangan Iran dan pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan UEA, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Yordania.” Riyadh menegaskan “kesiapannya menempatkan seluruh kemampuan” Kerajaan untuk mendukung negara-negara Teluk yang menjadi sasaran serangan tersebut dan memperingatkan akan “konsekuensi serius” jika pelanggaran terhadap kedaulatan negara terus berlanjut.
Qatar, yang wilayahnya turut menjadi target rudal balistik Iran, menyebut serangan itu sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional, keamanan, dan integritas teritorialnya” sekaligus “eskalasi yang tidak dapat diterima yang mengancam stabilitas kawasan.” Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri, Doha menegaskan “sepenuhnya berhak untuk merespons serangan ini” sesuai hukum internasional, sembari mengingatkan bahwa Qatar selama ini berupaya menjaga prinsip bertetangga baik dan mendorong dialog dengan Iran.
UEA juga mengeluarkan kecaman keras dan menyebut serangan rudal Iran sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional dan pelanggaran jelas terhadap hukum internasional.” Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan solidaritas penuh dengan negara-negara yang terdampak, memperingatkan “konsekuensi berat” bagi keamanan regional dan stabilitas ekonomi global jika serangan sejenis berlanjut, serta menegaskan bahwa UEA “tidak akan mentoleransi kompromi apa pun terhadap keamanan atau kedaulatannya dalam kondisi apa pun.”
Di saat yang sama, negara-negara Teluk menyoroti dampak strategis eskalasi ini terhadap Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia, yang menjadi kunci hampir sepertiga perdagangan minyak global. Para pejabat dan analis regional memperingatkan bahwa konflik yang melebar berpotensi mengguncang pasar energi, memicu lonjakan harga minyak, dan menyeret kawasan ke dalam krisis keamanan paling serius dalam satu dekade terakhir, jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi dan seruan menahan diri.