JAKARTA – Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menimbulkan korban besar di Iran. Sebuah ledakan dahsyat menghantam sekolah dasar Shajareye Tayabeh di Minab, Provinsi Hormozgan, pada Sabtu (28/2/2026), menewaskan 60 siswi dan melukai sejumlah lainnya.
Ledakan itu menjadi laporan pertama yang dikonfirmasi mengenai korban jiwa setelah serangan besar-besaran melanda Teheran, Qom, Isfahan, dan kota-kota besar Iran lainnya. Target serangan mencakup markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), fasilitas nuklir, serta kompleks kepemimpinan.
Dilansir dari republicworld, Minggu (1/3/2026), Gubernur Minab, Mohammad Radmehr, menyebut sebuah rudal juga menghantam klinik di dekat sekolah. Ia menegaskan operasi penyelamatan sedang berlangsung dan situasi keamanan kota terkendali. Rekaman dari lokasi menunjukkan tas anak-anak diangkat dari reruntuhan, sementara balok beton menimpa meja dan bangku kelas.
Serangan itu terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS, Donald Trump memberikan ultimatum 10 hari kepada Iran untuk menyelesaikan kesepakatan nuklir.
Iran Kecam Keras AS
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengecam keras serangan tersebut. “Sekolah itu dibom di siang bolong, saat penuh dengan murid-murid muda. Puluhan anak-anak yang tidak bersalah telah dibunuh di tempat ini saja,” ujarnya. Ia menambahkan, “Kejahatan terhadap rakyat Iran ini tidak akan dibiarkan begitu saja.”