KUALA LUMPUR, MALAYSIA – Perdana Menteri Anwar Ibrahim membuka kemungkinan pemangkasan gaji para menteri jika kondisi ekonomi terdampak krisis di Timur Tengah semakin memburuk. Meski situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda melalui gencatan senjata dan kembali dibukanya Selat Hormuz, pemerintah Malaysia tetap bersiaga menghadapi ketidakpastian global.
Anwar menegaskan bahwa stabilitas saat ini belum sepenuhnya menjamin kondisi jangka panjang. Pemerintah, kata dia, harus menyiapkan berbagai skenario, termasuk langkah penghematan di level kabinet.
“Yang penting adalah mereka melayani dengan baik,” ujar Anwar seperti dikutip dari media lokal.
Gaji Menteri Bisa Dipangkas Jika Ekonomi Tertekan
Dalam pernyataannya, Anwar yang juga menjabat sebagai Menteri Keuangan menyebut tidak menutup kemungkinan adanya pemotongan gaji pejabat negara apabila situasi ekonomi memburuk akibat dampak geopolitik.
Ia menekankan bahwa langkah tersebut bukan keputusan utama, melainkan opsi yang akan dipertimbangkan secara hati-hati sesuai perkembangan situasi.
“Jika situasi ekonomi menjadi memburuk, hal itu dapat dipertimbangkan,” katanya saat menjawab pertanyaan terkait kemungkinan mengikuti kebijakan serupa yang dipertimbangkan negara lain.
Anwar Siap Tak Digaji, Tapi Perhatikan Hak Menteri
Anwar juga menyatakan kesiapannya secara pribadi untuk tidak menerima gaji sebagai bentuk komitmen dalam menghadapi krisis. Namun, ia menegaskan bahwa kesejahteraan anggota kabinet tetap menjadi perhatian pemerintah.
“Bagi saya, tidak masalah jika tidak menerima gaji. Tapi gaji itu adalah hak mereka selama mereka berkinerja baik, dan saya kira itu wajar,” tuturnya.
Ia mengakui bahwa gaji menteri di Malaysia saat ini sudah tergolong relatif rendah, sehingga kebijakan pemotongan harus dipertimbangkan secara proporsional.
Harga BBM Subsidi Tetap Dijaga
Di tengah tekanan global pada sektor energi, pemerintah Malaysia memilih menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis RON 95. Kebijakan ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat.
Sejak awal Maret, harga RON 95 dipertahankan di level 1,99 ringgit per liter atau sekitar Rp8.500. Pemerintah mengklaim masih memiliki kapasitas fiskal untuk menopang subsidi dalam jangka pendek.
“Kita akan mencoba mengendalikan dampak konflik Iran, termasuk untuk RON 95, yang harganya 1,99 ringgit per liter,” ujar Anwar dalam pernyataan sebelumnya.
Ketahanan Fiskal Diuji Krisis Global
Anwar menyebut keuangan negara masih cukup kuat untuk menahan beban subsidi energi selama satu hingga dua bulan ke depan. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi global yang fluktuatif bisa mempengaruhi kebijakan ekonomi domestik secara cepat.
Dengan ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya stabil, pemerintah Malaysia kini mengedepankan strategi kehati-hatian, termasuk efisiensi anggaran dan perlindungan terhadap masyarakat.
Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ancaman krisis yang dapat kembali meningkat sewaktu-waktu.