JAKARTA – Peta tiga dimensi (3D) alam semesta terbesar dalam sejarah berhasil mengungkap sekitar 47 juta galaksi, menghadirkan gambaran kosmik yang belum pernah sedetail ini sejak awal waktu terbentuknya jagat raya.
Citra spektakuler ini memperlihatkan struktur raksasa menyerupai jaring kosmik atau cosmic web, di mana galaksi tidak tersebar acak melainkan membentuk filamen dan gugusan yang saling terhubung.
Mengutip laporan Live Science yang dirilis Senin (20/4/2026), penemuan ini menjadi tonggak penting dalam astronomi modern karena membuka peluang baru memahami evolusi alam semesta sekaligus misteri energi gelap yang mendominasi kosmos.
Setiap titik kecil dalam peta tersebut mewakili galaksi yang dipetakan oleh Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI), sebuah instrumen canggih yang dipasang pada Nicholas U. Mayall Telescope di Kitt Peak National Observatory, Amerika Serikat.
Instrumen ini menggunakan 5.000 sensor serat optik robotik untuk menangkap cahaya dari objek langit yang sangat jauh.
Alih-alih tersebar merata, galaksi-galaksi tersebut tersusun dalam pola kompleks yang membentuk jaringan bercahaya, sementara di antaranya terdapat ruang hampa luas yang hampir tidak berisi bintang atau galaksi.
Pemetaan ini merupakan hasil survei selama lima tahun yang awalnya menargetkan 34 juta galaksi dan quasar, namun justru melampaui ekspektasi dengan mendeteksi lebih dari 47 juta galaksi serta lebih dari 20 juta bintang di Milky Way.
Cahaya yang ditangkap dalam proyek ini membutuhkan waktu miliaran tahun untuk mencapai Bumi, sehingga memungkinkan ilmuwan melihat kembali masa lalu dan merekonstruksi perjalanan evolusi alam semesta.
Hasilnya adalah peta tiga dimensi yang tidak hanya menunjukkan posisi galaksi, tetapi juga bagaimana mereka bergerak dan membentuk struktur selama miliaran tahun.
Lebih dari sekadar visual menakjubkan, peta ini berperan penting dalam mengungkap energi gelap, yaitu gaya misterius yang diyakini mendorong percepatan ekspansi alam semesta dan mencakup sekitar 70 persen dari total isinya.
Dengan membandingkan distribusi galaksi dari berbagai periode kosmik, para peneliti dapat melacak bagaimana energi gelap memengaruhi struktur alam semesta selama 11 miliar tahun terakhir.
Data awal bahkan menunjukkan indikasi bahwa energi gelap mungkin berubah seiring waktu, sebuah temuan yang berpotensi mengubah pemahaman ilmiah tentang masa depan alam semesta.
Proyek ambisius ini melibatkan lebih dari 900 peneliti dari 70 institusi di seluruh dunia dan dipimpin oleh Lawrence Berkeley National Laboratory dengan dukungan U.S. Department of Energy Office of Science.
Observasi DESI dijadwalkan berlanjut hingga 2028 dengan target memperluas peta hingga 20 persen lebih besar, termasuk menjangkau galaksi yang lebih redup dan wilayah yang sulit diamati.
Hasil lengkap dari keseluruhan dataset diperkirakan akan dipublikasikan pada 2027 dan berpotensi menjadi salah satu terobosan terbesar dalam sejarah kosmologi.***