ISFAHAN, IRAN – Ribuan warga Iran memadati Lapangan Naqsh-e Jahan di kota bersejarah Isfahan pada Minggu (1/3/2026) untuk meluapkan duka cita sekaligus menunjukkan solidaritas nasional atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Rekaman dari Press TV, saluran berbahasa Inggris milik pemerintah Iran, menampilkan kerumunan massa yang memenuhi lapangan ikonik tersebut. Para pelayat mengibarkan bendera nasional serta poster bergambar sang pemimpin yang telah memimpin negeri itu selama lebih dari tiga dekade sejak 1989, sembari melantunkan slogan-slogan penghormatan.
Kematian Khamenei dikonfirmasi oleh media resmi Iran pada Minggu pagi, menyusul serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menyasar ibu kota Teheran sehari sebelumnya, Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut menewaskan Khamenei beserta sejumlah petinggi lainnya di kompleks kepemimpinannya.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menjadi pejabat tinggi pertama yang tampil di depan publik pasca-insiden. Dalam pidato yang disiarkan secara nasional, ia mengecam keras aksi militer tersebut dengan menyebut pemimpin AS dan Israel sebagai “penjahat kotor”.
“Kalian telah melanggar batas merah kami dan harus membayar harganya,” tegas Ghalibaf. “Kami akan memberikan pukulan yang begitu dahsyat sehingga kalian sendiri akan terpaksa mengemis.”
Pernyataan keras itu mencerminkan kemarahan resmi Teheran yang kini memasuki masa berkabung 40 hari. Pemerintah juga menetapkan tujuh hari libur nasional sebagai bentuk penghormatan.
Sementara itu, keamanan diperketat di berbagai wilayah Iran, termasuk kota-kota besar, guna mencegah potensi kerusuhan atau provokasi lebih lanjut. Situasi ini terus dipantau ketat oleh komunitas internasional di tengah kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah pasca-kematian figur sentral dalam politik Iran selama 37 tahun.