Gelombang serangan udara yang dilancarkan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan telah merenggut nyawa mantan Presiden Iran yang juga ikon perlawanan anti-Barat, Mahmoud Ahmadinejad.
Ahmadinejad dikabarkan gugur pada Sabtu malam (28/2/2026) setelah rudal-rudal presisi menghantam kawasan Narmak, sebelah timur laut Teheran. Meski otoritas resmi Iran belum merilis pernyataan terperinci, media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi bahwa tiga pengawal setianya turut tewas dalam insiden tersebut.
Strategi “Satu Menit” Israel
Di saat yang sama, Juru Bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Effie Defrin, melontarkan klaim yang mengejutkan dunia. Ia menyebut “serangan pembuka” mereka berhasil melumpuhkan 40 komandan senior Iran hanya dalam waktu satu menit.
Militer Israel kini memberi sinyal perubahan strategi yang lebih ekstrem: fokus serangan akan beralih secara intensif ke fasilitas nuklir Iran. Langkah ini diambil di tengah upaya perundingan nuklir yang sedianya tengah berlangsung di Jenewa, Swiss.
Akhir Sang Penantang Holocaust
Mahmoud Ahmadinejad (kelahiran 1956) dikenal dunia sebagai pemimpin yang vokal dan kontroversial. Selama menjabat sebagai Presiden (2005-2013), ia kerap berkonfrontasi langsung dengan Tel Aviv dan Washington. Pernyataannya yang paling melegenda adalah seruan untuk “menghapus Israel dari peta dunia” serta keraguannya terhadap peristiwa Holocaust.
Kematian Ahmadinejad menambah daftar panjang kehilangan besar bagi Iran, menyusul gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang tewas setelah kediamannya dihantam 30 misil dalam operasi yang sama.
Balasan Iran: Selat Hormuz Resmi Ditutup
Iran tidak tinggal diam menghadapi kehancuran ini. Teheran segera melancarkan serangan balasan masif menggunakan drone penyerbu dan rudal berdaya ledak tinggi ke wilayah pendudukan Israel. Tidak hanya itu, sedikitnya 27 pangkalan militer AS di negara-negara Teluk—termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi—turut menjadi target sasaran.
Sebagai langkah paling ekstrem yang mengguncang ekonomi dunia, pada Minggu (1/3/2026), Iran secara resmi menutup Selat Hormuz. Penutupan jalur logistik bahan bakar minyak paling vital di dunia ini diprediksi akan memicu krisis energi global yang tak terelakkan.