Di tengah kecamuk perang yang memasuki hari keempat, sebuah insiden tragis mengguncang koalisi Amerika Serikat. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa tiga jet tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara AS jatuh di wilayah Kuwait pada Senin pagi (2/3/2026).
Ironisnya, pesawat-pesawat canggih tersebut bukan rontok oleh musuh, melainkan akibat insiden tembak kawan (friendly fire) oleh pertahanan udara Kuwait.
Keenam kru pesawat dilaporkan berhasil melontarkan diri (eject) dengan selamat. Mereka kini dalam kondisi stabil setelah dievakuasi secara heroik dari zona tempur dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Kekacauan di Tengah Serangan Balasan Iran
Insiden mematikan ini terjadi saat langit Kuwait dipenuhi oleh rudal balistik, drone kamikaze, dan pesawat tempur Iran yang meluncurkan gelombang serangan balasan. Dalam situasi pertempuran yang sangat intensif, pertahanan udara Kuwait dilaporkan melakukan kesalahan identifikasi dan melepaskan tembakan ke arah jet tempur sekutunya sendiri.
“Selama pertempuran aktif yang mencakup serangan rudal dan drone Iran, pesawat kami secara keliru ditembak jatuh oleh pertahanan udara Kuwait,” ungkap pernyataan resmi CENTCOM.
Rekaman video yang beredar memperlihatkan pemandangan mencekam: setidaknya satu jet F-15E jatuh berputar sambil terbakar hebat hanya berjarak 10 kilometer dari Pangkalan Udara Ali Al Salem. Klip lain menunjukkan warga sipil Kuwait berlarian membantu para pilot yang mendarat dengan parasut sebelum menyerahkan mereka kepada otoritas militer.
Kehilangan Pertama di Tengah “Operation Epic Fury”
Jatuhnya ketiga jet F-15E ini menandai kehilangan aset udara pertama bagi Amerika Serikat sejak Operation Epic Fury diluncurkan pada 28 Februari lalu. Konflik ini telah berubah menjadi perang terbuka setelah serangan gabungan AS-Israel menewaskan pejabat tinggi Iran, termasuk Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Teheran membombardir pangkalan-pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, dan UEA. Ketegangan semakin memuncak saat asap terlihat mengepul dari area Kedutaan Besar AS di Kuwait City pada Senin ini, memaksa dikeluarkannya peringatan darurat bagi warga Amerika untuk segera berlindung.
Meskipun kehilangan tiga pesawat tempur andalannya, militer AS tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Dengan lebih dari 1.000 target di Iran yang telah digempur, Presiden Donald Trump memberikan sinyal bahwa ofensif ini bisa berlangsung hingga “empat sampai lima minggu” ke depan. Insiden di Kuwait ini menjadi pengingat betapa tipisnya batas antara kawan dan lawan di tengah kabut perang yang pekat.