JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui bahwa dirinya yang mendorong Israel untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Pernyataan itu ia sampaikan ketika ditanya apakah justru Israel yang menekan AS untuk terlibat dalam serangan tersebut.
“Tidak, sebenarnya, saya mungkin telah memaksa mereka,” ujar Trump di Gedung Putih saat menerima kunjungan Kanselir Jerman Friedrich Merz, dilansir Al-Jazeera, Rabu (4/3/2026).
Trump menyatakan bahwa perkembangan negosiasi yang dimediasi Oman meyakinkannya bahwa Iran berencana menyerang AS. Pernyataan ini kontras dengan penilaian intelijen AS sendiri yang menyebut tidak ada ancaman langsung dari Iran.
Pada Senin, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa AS menyerang Iran karena mengetahui Israel akan membom negaranya, dan karena pemerintahan Trump meyakini Iran kemudian akan menyerang fasilitas AS di kawasan tersebut.
Trump Harapkan Pemimpin Iran dari Kalangan Internal
Di sisi lain, Trump menyampaikan harapannya agar Iran setelah konflik dipimpin oleh seseorang yang berasal dari dalam negeri Iran sendiri. Menurutnya, opsi itu lebih baik ketimbang Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran.
“Dia (Pahlavi) tampak seperti orang yang sangat baik. Tetapi menurut saya, seseorang dari dalam mungkin lebih baik,” kata Trump.
Trump juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap skenario terburuk dari serangan tersebut, yakni munculnya pemimpin baru yang dinilai tidak berbeda dari kepemimpinan Iran saat ini yang sedang diperangi AS.
“Saya kira skenario terburuknya adalah, kita melakukan ini, dan kemudian seseorang mengambil alih yang sama buruknya dengan orang sebelumnya, bukan?” ujar Trump. “Itu bisa terjadi. Kita tidak ingin itu terjadi,” tambahnya.