JAKARTA – Kementerian Kelistrikan Irak pada Rabu (4/3/2026) mengumumkan pemadaman menyeluruh jaringan listrik nasional. Seluruh provinsi kehilangan pasokan energi setelah jalur transmisi dan pembangkit listrik berhenti beroperasi secara bersamaan.
Juru bicara kementerian menegaskan bahwa sistem listrik negara itu lumpuh total. Namun, penyebab gangguan masih belum diketahui di tengah eskalasi konflik regional yang kian cepat.
Dilansir dari turkiyetoday, Kamis (5/3/2026), krisis listrik ini menambah deretan bencana yang menimpa Irak pekan ini, ketika negara tersebut terjebak di tengah baku tembak antara kampanye militer AS-Israel terhadap Iran dan serangan balasan Teheran bersama kelompok milisi sekutunya.
Ledakan baru dilaporkan di Erbil, wilayah utara Irak, menurut seorang jurnalis AFP. Kelompok bersenjata pro-Iran, termasuk Saraya Awliya al-Dam (Brigade Penjaga Darah), mengklaim bertanggung jawab atas serangan di dekat Erbil, pangkalan Al-Harir, serta pangkalan Victoria milik Amerika di Baghdad.
Warga AS di Irak Diminta Tinggalkan Irak
Tak lama setelah pemadaman, Kedutaan Besar AS di Baghdad mengeluarkan arahan mendesak. “Warga negara AS di Irak sangat dianjurkan untuk pergi sesegera mungkin setelah kondisi memungkinkan, dan berlindung di tempat sampai kondisi aman untuk pergi,” kata kedutaan di X. “Jika aman untuk melakukannya, warga Amerika harus meninggalkan Irak sekarang.”
Departemen Luar Negeri AS sebelumnya memperbarui peringatan perjalanan pada 2 Maret. Pegawai pemerintah yang tidak dalam keadaan darurat diperintahkan meninggalkan Irak, dengan status peringatan tetap pada Level 4: Jangan Bepergian.