JAKARTA – Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menilai operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menimbulkan ancaman serius bagi stabilitas serta ekonomi global. Hal itu ia sampaikan dalam diskusi meja bundar di kedutaan pada Kamis (5/3/2026).
“Apa yang saat ini terjadi di Timur Tengah sebagai akibat dari agresi Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran… sarat dengan konsekuensi kolosal, konsekuensi negatif bagi seluruh dunia, bagi stabilitas global dan ekonomi global,” ujar Lavrov, dilansir dari Sputnik.
Lavrov menambahkan, Rusia akan berupaya berkontribusi dalam penyelesaian krisis di Timur Tengah. Ia juga menyoroti adanya perbedaan pendapat di dalam Amerika Serikat mengenai tujuan operasi militer tersebut. Menurutnya, salah satu tujuan adalah menciptakan perpecahan antara Teheran dan negara-negara kawasan.
Lavrov menuding NATO kini terseret dalam perang melawan Iran, sebagaimana sebelumnya terlibat dalam konflik Ukraina. Ia mengungkapkan bahwa negosiasi antara AS dan Iran sempat hampir berhasil pada Juni tahun lalu, namun terhenti akibat pecahnya perang 12 hari.
Menanggapi eskalasi, Lavrov mengusulkan moratorium total terhadap serangan yang menimbulkan korban sipil dan menghancurkan infrastruktur. Ia juga menyerukan negara-negara Teluk untuk bergabung dalam upaya menghentikan serangan AS-Israel terhadap Iran.
Lavrov menekankan pentingnya menghormati hak Iran untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai anggota penuh PBB. Ia berharap perang tidak merusak prinsip nonproliferasi senjata nuklir.