JAKARTA – Tanggal 7 Maret menyimpan rentetan peristiwa bersejarah yang membentuk peradaban dunia hingga mencatat tragedi tragis di tanah air. Dari wafatnya salah satu pemikir terbesar Yunani Kuno hingga kecelakaan pesawat Garuda Indonesia yang menewaskan puluhan jiwa, berikut rangkuman momen penting yang patut dikenang.
Wafatnya Aristoteles, Bapak Filsafat Barat
Pada tahun 322 SM, filsuf Yunani Aristoteles meninggal dunia di usia sekitar 62 tahun di Chalkis, Euboea. Murid Plato sekaligus guru Alexander Agung ini dikenal sebagai pemikir serba bisa yang menulis karya luas di berbagai bidang, mulai dari fisika, metafisika, logika, etika, politik, biologi, hingga zoologi. Bersama Socrates dan Plato, Aristoteles diakui sebagai salah satu dari tiga filsuf paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran Barat. Fondasinya masih relevan hingga kini.
Penemuan Telepon, Paten Alexander Graham Bell
Tahun 1876 menjadi tonggak revolusi komunikasi ketika Alexander Graham Bell resmi memperoleh hak paten untuk telepon pada 7 Maret. Penemu asal Skotlandia ini (lahir 3 Maret 1847, wafat 1922) berhasil menciptakan alat yang memungkinkan transmisi suara melalui kabel listrik. Meski kontribusinya juga mencakup bidang penerbangan dan hidrofoil, penemuan telepon menjadi warisan terbesarnya yang mengubah cara manusia berinteraksi jarak jauh. (Catatan: Kongres AS pada 2002 mengakui Antonio Meucci sebagai kontributor awal penemuan serupa.)
Pencabutan Mandat Presiden Soekarno oleh MPRS
Di panggung politik Indonesia, 7 Maret 1967 menandai momen krusial ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mencabut mandat Presiden pertama RI, Soekarno, melalui Ketetapan MPRS No. XXXIII/MPRS/1967. Lembaga ini, yang menjadi cikal bakal MPR, dibentuk berdasarkan Dekret Presiden 5 Juli 1959 yang dikeluarkan Soekarno sendiri. Keputusan sidang istimewa tersebut mengakhiri kekuasaan eksekutif Soekarno dan membuka jalan bagi transisi kepemimpinan nasional pasca-peristiwa G30S/PKI.
Tragedi Garuda Indonesia GA-200 di Yogyakarta
Peristiwa paling menyayat hati di tanah air terjadi pada 7 Maret 2007, ketika pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA-200 (Boeing 737-400) mengalami kecelakaan saat mendarat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Sekitar pukul 07.05 WIB, pesawat yang membawa 133 penumpang dan 7 awak kru itu overrun runway, menabrak pagar bandara, melintasi jalan raya, hingga terbakar di area sawah terdekat.
Insiden ini menewaskan 21 orang (20 penumpang dan 1 awak kabin) serta melukai 112 lainnya. Di antara korban jiwa terdapat tokoh nasional seperti mantan Rektor UGM Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, kriminolog Universitas Indonesia Dr. Adrianus Meliala, serta beberapa tokoh lainnya. Saksi mata melaporkan pesawat mendarat dengan kecepatan tinggi, menyebabkan roda depan runtuh, memicu api, dan badan pesawat terbelah memanjang dari kabin hingga ekor, sementara salah satu sayap pecah.
Pesawat tersebut diproduksi pada 19 Oktober 1992, telah mencatat 34.112 jam terbang hingga akhir Oktober 2006, dan bergabung dengan armada Garuda sejak 7 Oktober 2002 setelah sebelumnya dioperasikan maskapai lain.
Hari ini mengingatkan kita pada perpaduan antara kemajuan ilmu pengetahuan, gejolak politik, dan risiko keselamatan transportasi yang terus menjadi pelajaran berharga bagi generasi mendatang.



