TEL AVIV, ISRAEL – Kementerian Keuangan Israel mengungkapkan bahwa perang melawan Iran mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar, mencapai 9 miliar shekel atau setara dengan USD2,9 miliar (Rp49 triliun) per pekan. Angka ini mencerminkan dampak luas konflik berkepanjangan di kawasan.
Israel membingkai perang melawan Iran sebagai konfrontasi dengan aktor non-negara, meskipun Iran adalah anggota PBB dengan populasi lebih dari 90 juta jiwa.
Rezim Zionis berusaha meyakinkan dunia bahwa Iran setara dengan kelompok yang disebut teroris, sehingga pemburuan terhadap para pemimpin dan upaya menggagalkan pemilihan pemimpin tertinggi baru dianggap sah.
Meski menyadari bahwa pembunuhan pemimpin Iran tidak akan mengubah dinamika, Israel berargumen bahwa penghentian serangan hanya mungkin terjadi jika Iran menjadi negara yang bersahabat dan pro-Israel.
Informasi terbaru dari kalangan militer Israel menyebutkan bahwa pemboman diperkirakan akan berlanjut setidaknya dua pekan ke depan dengan harapan dapat melunakkan situasi dan membuka jalan bagi pemberontakan rakyat melawan pemerintah di Teheran.
Di tengah eskalasi ini, investigasi independen PBB mengutuk keras serangan AS-Israel terhadap Iran.
“Serangan-serangan ini… bertentangan dengan Piagam PBB, yang melarang penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik negara mana pun,” tegas Misi Pencarian Fakta Internasional Independen PBB tentang Iran dalam pernyataannya.
Korban tewas di Iran akibat serangan tersebut dilaporkan mencapai 1.045 orang, menurut kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim. Serangan gelombang ke-10 yang diklaim Israel menghantam Teheran, Karaj, dan Isfahan, menewaskan sedikitnya lima orang dan merusak sejumlah sekolah.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah melancarkan gelombang serangan ke-16 dan ke-17 semalam dalam operasi yang disebut “Janji Sejati”. Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memberikan update terkait fasilitas nuklir Iran.
Berdasarkan analisis citra satelit terbaru, IAEA menyatakan, “Mereka melihat tidak ada kerusakan pada fasilitas yang berisi material nuklir di Iran dan oleh karena itu tidak ada risiko pelepasan radiologis saat ini.
” Namun, “Di dekat lokasi nuklir Isfahan, kerusakan terlihat di dua bangunan. Tidak ada dampak tambahan yang terdeteksi di Natanz setelah kerusakan yang dilaporkan sebelumnya di pintu masuk, dan tidak ada dampak di lokasi nuklir lainnya, termasuk PLTN Bushehr,” tambahnya.
Konflik yang terus memanas ini menimbulkan kekhawatiran global akan stabilitas kawasan dan keamanan internasional.