JAKARTA – Kementerian Luar Negeri RI mengerahkan tim pemantauan khusus di Arab Saudi untuk membantu ribuan jemaah umrah asal Indonesia yang tertahan akibat gangguan penerbangan menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu, Heni Hamidah, menyatakan bahwa perwakilan RI telah menurunkan tim secara intensif di dua bandara utama.
“Untuk penanganan WNI jemaah umrah yang stranded, perwakilan RI menerjunkan tim pemantauan di Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah dan Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz di Madinah selama 24 jam,” kata Heni saat konferensi pers di Kemlu.
Tim tersebut bertugas memantau kondisi jemaah secara bergiliran, mencegah penumpukan, serta memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Bagi jemaah yang masih tertahan, Kemlu melalui perwakilan dan pihak travel berkoordinasi menyediakan akomodasi penginapan di sekitar bandara Jeddah dan Madinah sebagai tempat menunggu hingga jadwal penerbangan tersedia.
“Perwakilan juga saat ini tengah menjajaki berbagai penerbangan untuk mengupayakan penerbangan tambahan ke wilayah sana,” ujarnya.
Upaya ini melibatkan koordinasi ketat dengan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi guna mempercepat solusi. Kemlu juga terus memantau perkembangan situasi keamanan kawasan untuk memastikan keselamatan seluruh WNI.
Sebagai langkah preventif, Kemlu secara resmi mengimbau masyarakat Indonesia untuk menunda perjalanan ke wilayah Timur Tengah hingga kondisi lebih stabil dan aman.
“Khusus terkait penanganan jemaah umrah, Kemlu berkoordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah juga menyampaikan imbauan untuk penundaan perjalanan ke kawasan Timur Tengah hingga situasi lebih kondusif,” pungkasnya.
Situasi ini muncul setelah eskalasi konflik di kawasan yang memicu pembatalan dan penundaan penerbangan internasional, termasuk rute menuju dan dari Arab Saudi. Pemerintah RI menegaskan bahwa keselamatan WNI, khususnya jemaah umrah, menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian geopolitik kawasan.