MOSKOW, RUSIA – Presiden Rusia Vladimir Putin secara resmi menyampaikan dukungan penuh kepada Pemimpin Tertinggi Iran yang baru dilantik, Ayatollah Mojtaba Khamenei, di tengah gempuran militer Israel dan Amerika Serikat yang terus meluas di Timur Tengah.
Dalam pesan langsung yang dikirimkan Senin (9/3/2026), Putin tidak hanya mengucapkan selamat atas pengangkatan Mojtaba sebagai penerus almarhum Ayatollah Ali Khamenei, tetapi juga menawarkan bahu persahabatan di saat Iran menghadapi tekanan militer terbesar dalam sejarah Republik Islam.
“Saya ingin menegaskan kembali dukungan teguh kami untuk Teheran dan solidaritas dengan teman-teman Iran kami,” demikian bunyi pernyataan Putin yang dirilis Kremlin .
Lebih jauh, pemimpin Rusia itu menegaskan komitmen jangka panjang Moskow terhadap Teheran. “Rusia telah dan akan tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan bagi Iran,” lanjut Putin .
Putin Pahami Beratnya Beban Mojtaba
Dalam pesannya, Putin secara eksplisit menyadati situasi sulit yang dihadapi pemimpin baru Iran. Pengangkatan Mojtaba terjadi saat Iran tengah berperang habis-habisan melawan koalisi Israel-AS.
“Pada saat Iran menghadapi agresi bersenjata, masa jabatan Anda di posisi tinggi ini tidak diragukan lagi akan membutuhkan keberanian dan dedikasi yang besar,” kata Putin .
Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi diplomatik. Sumber-sumber intelijen AS menyebut bahwa di balik dukungan verbal ini, Moskow telah bergerak aktif membantu Teheran di medan perang.
Dukungan Nyata di Balik Layar
Laporan media AS, termasuk *The Washington Post*, mengungkapkan bahwa Rusia telah memasok intelijen vital kepada Iran untuk menyerang aset-aset tempur Amerika di seluruh Timur Tengah. Data intelijen tersebut dikabarkan mencakup koordinat persis kapal perang dan pangkalan udara AS yang menjadi target serangan rudal dan drone Iran .
Hal ini memperkuat dugaan bahwa “kemitraan andal” yang dimaksud Putin bukan sekadar retorika, melainkan kerja sama militer aktif yang mengubah peta pertempuran di kawasan.
Meskipun utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, telah memperingatkan Rusia agar tidak berbagi informasi intelijen, Moskow disebut tetap melanjutkan bantuannya . Trump sendiri meremehkan bantuan tersebut, dengan mengatakan, “Jika mereka menerima informasi, itu tidak banyak membantu mereka” .
Kontras dengan Ancaman Trump
Dukungan penuh dari Putin ini menciptakan kontras tajam dengan sikap Presiden AS Donald Trump. Bahkan sebelum Mojtaba dilantik, Trump telah menyatakan penolakannya.
“Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran,” kata Trump kepada Axios .
Setelah pelantikan, ancaman Trump semakin mengeras. *The Wall Street Journal* melaporkan bahwa Trump secara pribadi terbuka dengan opsi untuk “menghabisi” Pemimpin Tertinggi baru Iran jika Mojtaba menolak mematuhi tuntutan Washington, termasuk pembubaran program nuklir .
“Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” tegas Trump kepada ABC News .
Di tengah dua kutub ekstrem ini—dukungan penuh dari Putin dan ancaman pembunuhan dari Trump—Mojtaba Khamenei harus menjalankan kepemimpinannya di saat Iran tengah berperang di banyak front.
Mojtaba: Pemimpin Baru di Tengah Duka dan Perang
Latar belakang Mojtaba yang selama puluhan tahun hidup di balik bayang-bayang ayahnya kini harus berhadapan dengan sorotan dunia. Ia naik ke tampuk kekuasaan di saat sistem pemerintahan yang dipelopori ayahnya sedang berjuang melawan ancaman eksistensial terbesar dalam sejarahnya yang hampir 50 tahun .
Transisi kepemimpinan ini menandai fase baru perang yang telah berlangsung selama sembilan hari. Militer Israel melancarkan gelombang serangan baru di Iran tengah pada hari Senin dan menghantam infrastruktur Hizbullah di Beirut. Ini menyusul serangan Israel terhadap depot minyak Teheran sehari sebelumnya .
Iran membalas dengan serangan sendiri terhadap Israel dan negara-negara Timur Tengah yang menampung pangkalan AS. Pada hari Minggu, dua warga negara asing, termasuk seorang warga India, tewas setelah sebuah proyektil menghantam daerah pemukiman di Arab Saudi .
Dengan dukungan penuh Putin di satu sisi dan ancaman Trump di sisi lain, Mojtaba Khamenei kini berdiri di garis depan salah satu konflik paling berdarah dalam sejarah Timur Tengah modern.