JAKARTA – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menembakkan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, memperburuk ketegangan kawasan setelah serangan balasan terhadap gempuran AS dan Israel.
Dalam pernyataan yang dikutip AFP, Rabu (11/3/2026), IRGC menyebut sedikitnya dua rudal menghantam Kamp Arifjan, pusat logistik utama militer AS di Kuwait. “Pangkalan Amerika di Arifjan dihantam oleh tembakan dua rudal oleh unit rudal Angkatan darat IRGC,” klaim IRGC.
Kamp Arifjan terletak di selatan Kuwait City. Sementara itu, Garda Nasional Kuwait dalam pernyataan terpisah mengumumkan berhasil menembak jatuh delapan drone sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan dan melindungi lokasi vital.
Ketegangan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran merespons dengan gelombang rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Menurut laporan Xinhua, sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah mengalami kerusakan, dengan Kuwait disebut paling parah. Citra satelit Planet Labs menunjukkan kerusakan infrastruktur di Pangkalan Udara Ali Al Salem, termasuk belasan bangunan dan area landasan. Di Kamp Arifjan, enam kubah radar komunikasi satelit dilaporkan hancur, berdampak pada jaringan Komando Pusat AS (CENTCOM).
Kerusakan juga terlihat di Kamp Buehring, dengan kawah bekas serangan udara dan area terbakar. Serangan paling mematikan terjadi di Pelabuhan Shuaiba pada 1 Maret, ketika drone Iran menghantam pusat komando darurat AS dan menewaskan enam tentara.
Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan ratusan drone dan rudal telah berhasil dicegat sejak Iran melancarkan serangan balasan.