Hartono, seorang sopir bus dari PO Riyan, tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan dari Cilacap menuju Purwokerto kali ini akan menjadi cerita yang ia kenang seumur hidup. Saat bus pariwisata kuningnya berangkat dari halaman Samsat Cilacap pukul 14.00 WIB, Hartono hanya tahu satu hal: ia mengantar rombongan untuk acara buka puasa bersama.
Dikira Rombongan Buka Bersama
Di dalam bus berkapasitas 50 kursi itu, suasana tampak sangat santai. Ada sekitar 20 penumpang yang sebagian besar mengenakan baju batik. “Di dalam bus semuanya anteng (tenang). Banyak yang pakai batik, bahkan ada yang sempat tidur,” kenang Hartono.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di antara barisan kursi tersebut duduk Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman, yang baru saja terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. Hartono juga tidak bisa mengenali mana petugas KPK dan mana pejabat Pemkab, karena semua orang mengenakan pakaian bebas.
Kejutan besar baru menghampiri Hartono saat bus tidak diarahkan menuju tempat makan, melainkan masuk ke gerbang Mapolresta Banyumas sekitar pukul 16.00 WIB. Hartono mengaku kaget dan tak menyangka tugasnya berakhir di kantor polisi.
“Saya kaget, tidak menyangka sama sekali. Awalnya saya kira kegiatan biasa, ternyata diarahkan ke Polresta,” ujarnya bingung.
Rombongan yang dibawa Hartono ternyata adalah bagian dari 27 orang yang diamankan KPK dalam operasi senyap di Cilacap. Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengonfirmasi bahwa OTT tersebut berkaitan dengan dugaan suap proyek di lingkungan Pemkab Cilacap. Selain mengamankan sang Bupati dan sejumlah ASN, tim penyidik juga menyita barang bukti berupa uang tunai yang jumlahnya masih terus dihitung.
Para pejabat yang “menumpang” bus Hartono tersebut akhirnya harus menjalani pemeriksaan awal di Mapolresta Banyumas, sebelum akhirnya diberangkatkan ke Jakarta menuju Gedung Merah Putih KPK untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.