Tradisi mudik Lebaran 2026 ke kampung halaman berubah menjadi ujian kesabaran yang luar biasa bagi rombongan pekerja asal Purwodadi, Grobogan. Alih-alih menikmati perjalanan dengan bus sewaan, mereka justru harus menempuh cara ekstrem: berjalan kaki sejauh puluhan kilometer demi menembus kemacetan yang nyaris tak bergerak.
Budi, seorang kuli bangunan yang sudah 14 tahun merantau di Bali, menceritakan betapa mencekamnya suasana di tengah hutan Taman Nasional Bali Barat. Dilansir dari Kompas, berangkat dari Ubud pada Minggu (15/3) pukul 11.00 WITA, harapan mereka untuk tiba di rumah dalam 18 jam pupus seketika.
AC Tak Mempan, Jalan Kaki Jadi Pilihan
Hanya satu jam perjalanan dari Denpasar, kemacetan mulai menyergap. Puncaknya terjadi di kawasan hutan tanpa sinyal seluler. Di bawah terik matahari Bali yang menyengat, suhu di dalam bus menjadi tak tertahankan meski AC sudah dinyalakan maksimal.
“Daripada di bus, meskipun AC tapi tidak mempan. Kelamaan duduk jadi sakit pinggang dan pusing,” ungkap Budi.
Karena frustrasi melihat kendaraan yang hanya bergeming, 13 orang dari rombongan tersebut memutuskan turun dan berjalan kaki menuju pelabuhan. Mereka meninggalkan satu rekan di bus untuk menjaga barang bawaan. Setelah berjalan selama tiga jam dengan kaki yang mulai lecet, mereka akhirnya tiba di Gilimanuk.
“Kami lelah sekali, kaki teman saya lecet, tapi lebih mending daripada duduk lama menunggu. Di pelabuhan setidaknya ada sinyal,” tambahnya. Hingga berita ini diturunkan, Budi mengaku sudah 30 jam berlalu sejak keberangkatan dan ia belum juga berhasil menyeberang ke Pulau Jawa.
Ujian Bagi Balita dan Keluarga
Kisah pilu juga datang dari Supri, pemudik asal Denpasar. Ia harus berjuang ekstra karena membawa anaknya yang masih berusia satu tahun. Berangkat pukul 16.00 WITA, Supri baru bisa menyentuh daratan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, pada pukul 05.00 WITA keesokan harinya.
“Anak rewel tidak bisa dihindari. Saya hanya bisa terus menghibur agar dia nyaman,” tutur Supri. Baginya, penantian belasan jam di jalur yang sama merupakan kemacetan terparah yang pernah ia lalui.
Upaya ASDP Mengurai “Benang Kusut”
Kemacetan ini terpantau mengular hingga Kota Negara, atau sekitar 31 kilometer dari titik pelabuhan. Menanggapi kondisi darurat ini, Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale, menyatakan pihaknya telah mengerahkan segala upaya.
“Kami mengoptimalkan pola Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) untuk mempercepat alur,” ujar Windy. Saat ini, sebanyak 33 unit kapal—termasuk bantuan kapal tipe LCM—telah dioperasikan penuh untuk melayani arus mudik yang membeludak di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Meskipun antrean perlahan mulai terurai, para pemudik diimbau untuk tetap mengikuti arahan petugas di lapangan demi keselamatan bersama di tengah situasi yang melelahkan ini.