Di tengah memanasnya tensi geopolitik global—terutama eskalasi konflik Iran-Israel yang menyeret Amerika Serikat—industri perbankan nasional kini memperketat barisan. Fokus utama saat ini adalah memperkuat kerangka manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian (prudential banking) guna mengantisipasi lonjakan harga minyak mentah dan gejolak pasar keuangan.
Berikut adalah poin-poin strategis perbankan Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global 2026:
Indikator Fundamental Tetap Kokoh
Ketua Umum Perbanas sekaligus Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa perbankan domestik masih berdiri di atas fondasi yang solid meski badai eksternal meningkat.
-
Pertumbuhan Kredit: Tetap terjaga dalam tren positif.
-
Likuiditas: Berada pada level yang memadai.
-
Permodalan: Sangat kuat untuk menahan guncangan.
Langkah Mitigasi: “Sabuk Pengaman” Industri Perbankan
Untuk menjaga stabilitas, Perbanas mencatat sejumlah langkah konkret yang kini sedang diakselerasi oleh perbankan tanah air:
1. Stress Test Sektoral & Early Warning System
Melakukan simulasi ketahanan terhadap sektor-sektor yang paling rentan terkena dampak kenaikan biaya energi, seperti:
-
Transportasi & Logistik
-
Manufaktur
-
Serta memperkuat sistem peringatan dini untuk mendeteksi potensi penurunan kualitas kredit lebih awal.
2. Disiplin Penyaluran Kredit
Menerapkan pendekatan risk-based pricing yang lebih disiplin untuk memastikan setiap penyaluran kredit telah memperhitungkan risiko terbaru secara akurat.
3. Optimalisasi Likuiditas & Valas
-
Menjaga rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR).
-
Mengelola eksposur nilai tukar secara konservatif melalui strategi lindung nilai (hedging) dan pengendalian Posisi Devisa Neto (PDN).
Menjaga Fungsi Intermediasi
Hery Gunardi menekankan bahwa berbagai kebijakan ini sangat krusial agar perbankan tetap bisa menjalankan fungsi intermediasinya (menyalurkan dana ke masyarakat) secara optimal tanpa mengorbankan stabilitas nasional.
“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan perbankan tetap resilien dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi domestik, meskipun tekanan eksternal berpotensi meningkat dalam jangka pendek hingga menengah,” pungkasnya.