JAKARTA – Lima bulan setelah gencatan senjata diumumkan, warga Gaza, Palestina masih bergulat dengan serangan udara dan krisis kemanusiaan yang tak kunjung reda. Kehidupan sehari-hari di Gaza nyaris tak lagi menyerupai masa sebelum perang, dengan ketakutan dan kehilangan setiap sudut kota.
“Drone tak henti-hentinya berdengung di atas kepala, tembakan dan penembakan terus berlanjut hampir setiap hari, dan kapal-kapal angkatan laut menembaki para nelayan,” kata Ahmed Baroud, 56 tahun, pengungsi di Deir al-Balah, dilansir dari The Guardian, Minggu (29/3/2026).
Otoritas kesehatan melaporkan enam orang tewas dan empat luka-luka akibat serangan udara Israel di al-Mawasi, Khan Younis, Minggu pagi. Sementara itu, harga pangan melonjak tajam sejak kampanye militer AS dan Israel terhadap Iran dimulai. “Situasinya menjadi semakin tegang sejak perang melawan Iran dimulai,” tambah Baroud.
Ibtisam al-Kurdi, yang kehilangan dua putranya, mengaku kesulitan mendapatkan kayu bakar dan gas. “Kami bergantung setiap hari pada makanan kaleng dan kacang-kacangan, dengan rasa takut kelaparan akan kembali,” ujarnya.
Kondisi pengungsi semakin parah akibat hujan dan suhu dingin, membuat tenda-tenda terendam air. Percakapan sehari-hari pun berubah: anak-anak tak lagi bermimpi soal sekolah, melainkan mencari air bersih atau uang untuk bertahan hidup.
Lebih dari 680 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata Oktober, termasuk 26 orang dalam sepekan terakhir. Infrastruktur rusak dan listrik tidak stabil memperburuk krisis kesehatan. UNRWA menyebut Kerem Shalom sebagai satu-satunya jalur kargo yang beroperasi, menimbulkan hambatan besar bagi pasokan.
Ibrahim Kaheel, pengungsi di Kota Gaza, menuturkan: “Setelah perang di Iran, harga pangan naik signifikan dan barang-barang menjadi langka di pasar.” Ia juga mengeluhkan akses air bersih yang hanya tersedia dua hari seminggu.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 20.000 pasien dan korban luka menunggu izin keluar untuk perawatan medis. Namun, keterbatasan alat diagnostik membuat banyak penderita kanker meninggal tanpa sempat mendapat pengobatan.
Cogat, unit militer Israel, menyatakan ada peningkatan jumlah pasien yang dievakuasi ke luar negeri melalui Rafah. Mereka menegaskan bantuan pangan tetap masuk ke Gaza, meski warga setempat mengeluhkan kelangkaan dan kualitas yang buruk.