JAKARTA – Donald Trump dituduh menjalankan “pemerintahan misoginis” setelah memecat Pam Bondi, menjadikannya perempuan kedua yang kehilangan jabatan di kabinet yang didominasi laki-laki.
Dilansir dari The Guardian, Bondi diberhentikan dari pos Jaksa Agung pada Kamis (2/4/2026), di tengah sorotan atas penanganannya terhadap berkas kasus Jeffrey Epstein. Langkah ini menyusul pemecatan Kristi Noem, Menteri Keamanan Dalam Negeri, kurang dari sebulan sebelumnya.
Kedua posisi tersebut kini digantikan oleh pria: Senator Markwayne Mullin di Kementerian Keamanan Dalam Negeri dan Todd Blanche sebagai Jaksa Agung sementara.
Para politisi Demokrat menilai ada pola diskriminatif. Anggota Kongres Jasmine Crockett menulis di media sosial: “Dia akan mengorbankan perempuan yang tidak kompeten jauh lebih cepat daripada laki-laki yang tidak kompeten.”
Yassamin Ansari dari Arizona menyoroti perbedaan perlakuan terhadap pejabat pria yang juga terjerat kontroversi. “Noem dan Bondi sama-sama buruk… Tapi bukankah… menarik… bahwa hanya perempuan yang dipecat?” tulisnya di X.
Mantan tokoh Partai Republik Bill Kristol turut berkomentar: “Bondi mengerikan, tetapi tidak lebih buruk dari Patel. Noem sangat buruk, tetapi tidak lebih buruk dari Hegseth. Lucunya, hanya perempuan yang dipecat.”
Tara Setmayer dari Seneca Project menilai pola ini konsisten dengan sejarah Trump memperlakukan perempuan. “Donald Trump adalah seorang misoginis dan ini adalah pemerintahan yang misoginis dan mereka tidak malu mengakui hal itu,” ujarnya.
Data Brookings Institution menunjukkan hanya 16% pejabat yang dikonfirmasi Senat dalam 300 hari pertama pemerintahan Trump adalah perempuan. Sementara itu, laporan The Guardian menyebut Tulsi Gabbard, Direktur Intelijen Nasional, bisa menjadi nama berikutnya yang terancam dicopot.