JAKARTA – Fenomena unik kembali muncul dari dunia seni rupa Indonesia. Seorang seniman muda bernama Liffi Wongso mencuri perhatian publik setelah video proses melukisnya viral di media sosial. Bukan tanpa alasan, cara ia berkarya terbilang tidak biasa karena dilakukan sambil rebahan di lantai, sebuah pendekatan yang jarang ditemui dalam praktik seni lukis konvensional.
Dalam video yang beredar, terlihat Liffi mengerjakan lukisan dengan posisi tubuh santai, seolah sedang beristirahat. Namun di balik posisi tersebut, ia tetap mampu menghasilkan karya dengan detail yang rapi dan komposisi yang terjaga. Hal ini memunculkan ketertarikan publik karena mematahkan anggapan bahwa proses melukis harus selalu dilakukan dengan posisi duduk tegak di depan kanvas atau menggunakan peralatan studio yang formal.
Gaya melukis sambil rebahan ini bukan sekadar aksi unik untuk menarik perhatian, melainkan juga mencerminkan pendekatan kreatif yang lebih fleksibel. Dalam konteks seni kontemporer, metode seperti ini menunjukkan bahwa proses berkarya tidak harus terikat pada aturan baku. Justru, kebebasan dalam berekspresi sering kali melahirkan karya yang lebih personal dan autentik. Liffi membuktikan bahwa kenyamanan posisi tubuh dapat menjadi bagian dari eksplorasi artistik itu sendiri.
Respons warganet terhadap karya dan proses kreatif Liffi pun cenderung positif. Banyak yang menganggap gaya tersebut relatable dengan kebiasaan generasi muda yang akrab dengan aktivitas rebahan, namun tetap ingin produktif. Tidak sedikit pula yang melihatnya sebagai simbol bahwa kreativitas bisa muncul dari kondisi apa pun, bahkan dari posisi yang dianggap tidak ideal sekalipun.
Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana media sosial berperan besar dalam memperluas jangkauan karya seni. Video proses melukis yang diunggah mampu menjangkau audiens yang lebih luas dibandingkan pameran konvensional. Dalam hitungan hari, gaya melukis Liffi menjadi perbincangan dan mengundang rasa penasaran banyak orang terhadap hasil akhirnya. Hal ini menunjukkan bahwa proses kreatif kini menjadi bagian penting dari konsumsi publik, bukan hanya karya akhir semata.
Jika dilihat lebih jauh, apa yang dilakukan Liffi sejalan dengan perkembangan seni modern yang semakin inklusif terhadap berbagai pendekatan. Dalam sejarah seni rupa Indonesia, para seniman telah lama bereksperimen dengan teknik dan medium yang beragam untuk menemukan identitas visual mereka. Eksplorasi tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter karya sekaligus memperkaya khazanah seni nasional.
Pendekatan rebahan yang dilakukan Liffi dapat dimaknai sebagai bentuk adaptasi terhadap gaya hidup masa kini. Di tengah ritme kehidupan yang cepat dan tekanan produktivitas, cara ini seolah menawarkan perspektif baru bahwa berkarya tidak harus selalu dalam kondisi yang kaku. Sebaliknya, suasana santai justru bisa menjadi ruang bagi ide-ide segar untuk muncul.
Selain itu, metode ini juga membuka diskusi tentang hubungan antara tubuh dan proses kreatif. Posisi tubuh yang berbeda dapat memengaruhi cara pandang, gerakan tangan, hingga hasil visual yang dihasilkan. Dengan melukis sambil rebahan, sudut pandang terhadap kanvas pun berubah, sehingga berpotensi menghasilkan komposisi yang lebih dinamis dan tidak biasa.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa batasan dalam dunia seni semakin kabur. Apa yang dulu dianggap tidak lazim kini justru menjadi daya tarik tersendiri. Liffi Wongso tidak hanya menghadirkan karya visual, tetapi juga menghadirkan cara baru dalam memandang proses berkarya itu sendiri. Dengan pendekatan yang santai namun tetap serius dalam kualitas, ia berhasil menunjukkan bahwa kreativitas tidak mengenal posisi, tempat, maupun aturan yang kaku. (ACH)