JAKARTA- Ketegangan di kawasan Teluk semakin memanas pada Selasa (7/4/2026) ketika Iran menolak tuntutan Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Donald Trump sebelumnya mengancam akan melakukan “penghancuran total” terhadap infrastruktur penting Iran jika jalur strategis minyak dunia tidak dibuka sebelum tengah malam waktu setempat
Tentara Iran menolak ancaman tersebut, menyebutnya sebagai “retorika arogan dan tanpa dasar.” Komando pusat Khatam Al-Anbiya menegaskan operasi terhadap pasukan AS dan Israel akan terus berlanjut.
Trump dalam konferensi pers menyatakan, “Kami punya rencana… di mana setiap jembatan di Iran akan hancur lebur pada pukul 12 tengah malam besok, di mana setiap pembangkit listrik di Iran akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi,” dikutip dari Hurriyet Daily News.
Sementara itu, militer Israel melancarkan gelombang serangan udara ke Teheran dan sekitarnya, disusul laporan ledakan di Karaj. Israel juga mengklaim berhasil mencegat rudal yang ditembakkan dari Iran. Negara-negara Teluk seperti Bahrain, UEA, dan Arab Saudi turut mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka menghadapi serangan rudal dan drone.
Iran Tolak Gencatan Senjata
Upaya gencatan senjata 45 hari yang dimediasi Pakistan, Mesir, dan Türkiye ditolak kedua pihak. Iran menuntut jaminan penghentian serangan Israel terhadap Hizbullah, sementara Trump menilai proposal tersebut “tidak cukup baik.”
Di ranah diplomasi, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan melakukan pemungutan suara atas resolusi terkait ancaman Iran di Selat Hormuz. Namun, draf terbaru tidak secara eksplisit mengizinkan penggunaan kekuatan, menyusul keberatan sejumlah anggota tetap.
Ketegangan semakin memuncak setelah Garda Revolusi Iran mengonfirmasi tewasnya kepala intelijen Majid Khademi dalam serangan AS-Israel, serta komandan senior Pasukan Quds, Asghar Bagheri. Israel menegaskan akan terus menargetkan pihak yang dianggap mengancam keamanan mereka.