JAKARTA – Banyak orang terbiasa menutup sesi makan besar dengan segelas teh karena dianggap menyegarkan. Namun, kebiasaan ini menyimpan risiko kesehatan jika dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang.
Teh memang dikenal kaya antioksidan dan sering dijadikan pilihan utama saat sarapan, makan siang, maupun makan malam. Akan tetapi, jika dikonsumsi pada waktu yang kurang tepat, minuman ini justru bisa mengganggu proses pencernaan dan penyerapan nutrisi.
Menurut Halodoc, ada beberapa dampak negatif minum teh segera setelah makan berat:
- Penyerapan Zat Besi Terhambat
Penelitian Effect of Tea and Other Dietary Factors on Iron Absorption menjelaskan, kandungan asam fitat dalam teh dapat menghambat penyerapan zat besi (Fe), seng (Zn), dan magnesium (Mg). Akibatnya, tubuh kehilangan nutrisi penting. - Risiko Anemia
Gangguan penyerapan zat besi berdampak pada pembentukan sel darah merah. Kondisi ini bisa memicu anemia, ditandai tubuh mudah lemas, pucat, dan cepat lelah. - Produksi Asam Lambung Meningkat
Studi Association Between Tea Consumption and Gastroesophageal Reflux Disease menyebutkan, kafein dalam teh diduga memicu produksi asam lambung berlebih, meski hubungan langsung dengan GERD masih perlu penelitian lebih lanjut. - Memicu Konstipasi
Senyawa tanin dalam teh bersifat antidiare. Jika dikonsumsi setelah makan, zat ini dapat meningkatkan risiko konstipasi atau sembelit.
Waktu Tepat Minum Teh
Konsumsi teh setelah makan tidak sepenuhnya dilarang, asalkan diberi jeda 30 menit hingga 2 jam agar makanan selesai dicerna. Dikutip dari Alodokter, minum teh setelah makan daging sebaiknya dihindari karena dapat menghambat penyerapan protein hewani dan zat besi.
Selain itu, teh tidak disarankan diminum sebelum tidur karena kandungan kafeinnya bisa meningkatkan kewaspadaan otak. Waktu terbaik menikmati teh adalah sore hari dalam suasana santai. Teh hijau lebih direkomendasikan karena diyakini membantu melancarkan pencernaan.