JAKARTA — Hujan meteor Lyrid akan kembali menghiasi langit malam pada akhir April 2026.
Fenomena ini dikenal sebagai salah satu hujan meteor tertua yang pernah dicatat manusia.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa pengamat di Tiongkok telah merekam kemunculannya sejak 687 sebelum Masehi, menjadikan Lyrid sebagai salah satu peristiwa langit yang memiliki nilai historis panjang.
Berikut sejumlah fakta mengenai hujan meteor Lyrid yang menarik untuk diketahui.
1. Asal Usul Hujan Meteor Lyrid
Hujan meteor Lyrid berasal dari sisa debu komet C/1861 G1 Thatcher.
Setiap kali Bumi melintasi jalur orbit komet tersebut, partikel-partikel kecil yang tertinggal akan masuk ke atmosfer dan terbakar, sehingga terlihat sebagai meteor yang melintas di langit.
2. Titik Pancaran di Konstelasi Lyra
Meteor Lyrid tampak berasal dari satu titik di langit yang disebut titik pancaran atau radiant.
Titik ini berada di konstelasi Lyra, dekat dengan bintang terang Vega.
Keberadaan Vega yang mudah dikenali membantu pengamat menentukan arah pandang saat menyaksikan fenomena ini.
3. Intensitas Meteor Saat Puncak
Pada saat puncaknya, hujan meteor Lyrid biasanya menghasilkan sekitar 10 hingga 15 meteor per jam.
Jumlah ini memang tidak sebesar hujan meteor lainnya, tetapi tetap cukup untuk memberikan pengalaman mengamati langit yang menarik.
4. Kecepatan Meteor yang Tinggi
Meteor Lyrid melaju dengan kecepatan sekitar 47 kilometer per detik saat memasuki atmosfer Bumi.
Kecepatan ini membuat meteor terlihat melintas cepat dalam sekejap, sehingga pengamat perlu jeli untuk menangkap momen kemunculannya.
5. Kemunculan Bola Api yang Mencolok
Meski umumnya tidak meninggalkan jejak cahaya panjang, Lyrid sesekali menghadirkan meteor sangat terang yang dikenal sebagai bola api atau fireball.
Kilatan cahaya ini menjadi daya tarik tersendiri karena tampak lebih mencolok dibanding meteor biasa.
6. Waktu Terbaik untuk Pengamatan
Pada tahun 2026, waktu terbaik untuk menyaksikan hujan meteor Lyrid adalah pada malam 21 April hingga dini hari 22 April.
Pengamatan akan lebih optimal setelah tengah malam hingga sebelum fajar, ketika langit berada dalam kondisi paling gelap.
7. Kondisi Langit yang Mendukung
Pengamatan tahun ini diperkirakan cukup menguntungkan karena minim gangguan cahaya bulan.
Langit yang relatif gelap akan meningkatkan peluang untuk melihat lebih banyak meteor dengan jelas.
Berlangsung Ribuan Tahun
Dengan karakteristik yang singkat namun memikat, hujan meteor Lyrid tetap menjadi salah satu fenomena astronomi yang layak dinantikan.
Bagi penggemar langit malam, momen ini dapat menjadi kesempatan untuk menikmati pertunjukan alam yang telah berlangsung selama ribuan tahun. (FB)