RIYADH, ARAB SAUDI — Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz. Langkah itu disebut dipicu kekhawatiran Riyadh atas potensi serangan balasan Teheran melalui kelompok Houthi di Yaman yang dapat menutup jalur Laut Merah dan mengguncang ekonomi Saudi.
Laporan tersebut disampaikan media Inggris The Telegraph pada Rabu (15/4/2026), mengutip sejumlah diplomat Teluk. Selain meminta pencabutan blokade, Arab Saudi juga disebut menekan Washington agar meredakan konflik yang terus meluas di Timur Tengah.
Menurut sumber diplomatik, MBS menginginkan Presiden AS Donald Trump kembali menempuh jalur diplomasi dengan Iran.
“Pangeran MBS ingin Presiden AS Donald Trump kembali ke negosiasi,” kata para diplomat Teluk seperti dikutip laporan tersebut.
Saudi Khawatir Iran Gunakan Houthi Tutup Bab al-Mandeb
Kekhawatiran utama Riyadh adalah kemungkinan Iran memerintahkan kelompok Houthi untuk menutup Selat Bab al-Mandeb, jalur strategis di Laut Merah yang menjadi pintu masuk utama pengiriman minyak Arab Saudi ke pasar global.
Jika jalur itu terganggu, ekspor energi kerajaan berisiko lumpuh dan memicu gejolak besar di pasar minyak dunia.
Perubahan sikap Arab Saudi ini dinilai cukup signifikan. Sebelumnya, Riyadh disebut termasuk salah satu negara Arab yang paling keras terhadap Iran dan mendukung tekanan lebih besar terhadap Teheran.
Bahkan setelah serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu, MBS dilaporkan menilai Iran hanya bisa dihentikan melalui tekanan militer.
Saat itu, ia disebut sejalan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang melihat momentum untuk melemahkan Iran secara permanen dan mengubah peta geopolitik Timur Tengah.
Jalur Minyak Saudi Bisa Terganggu
Selama konflik di Teluk, Arab Saudi masih memiliki keunggulan geografis karena mempunyai dua jalur laut, yakni Teluk Persia dan Laut Merah.
Ketika Selat Hormuz terganggu, Saudi mengalihkan ekspor minyak dari Ras Tanura menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah melalui pipa timur-barat sepanjang sekitar 750 mil.
Langkah itu membantu menjaga ekspor minyak mendekati level sebelum perang, yakni sekitar 7 juta barel per hari.
Namun, ketahanan tersebut dapat runtuh apabila Houthi kembali menyerang kapal komersial atau mencoba menguasai Bab al-Mandeb.
Satu serangan saja diyakini cukup membuat perusahaan pelayaran menolak mengirim kapal tanker ke Yanbu.
Dampak Besar bagi Pasar Global
Sekitar dua pertiga ekspor minyak mentah Arab Saudi ditujukan ke kilang-kilang Asia dalam kontrak jangka panjang. Jika jalur Laut Merah terganggu, pengalihan rute lewat Terusan Suez dinilai tidak efektif.
Kapal tanker raksasa bermuatan penuh sulit melintasi jalur tersebut, sementara rute alternatif bisa menambah waktu pelayaran hingga 29 hari.
Situasi ini berpotensi menaikkan biaya logistik, menekan pasokan energi, dan mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Houthi Masih Dinilai Berbahaya
Meski kekuatan Houthi diklaim melemah akibat ratusan serangan udara AS dan Inggris, sejumlah analis menilai kelompok itu masih memiliki kemampuan melancarkan gangguan maritim.
Sepanjang 2023 hingga tahun lalu, Houthi tercatat melancarkan 190 serangan terhadap kapal dagang, menenggelamkan dua kapal dan menyita satu kapal lainnya. Akibatnya, lalu lintas Laut Merah turun lebih dari 60 persen.
Amr al-Bidh, perwakilan khusus presiden Dewan Transisi Selatan (STC) di Yaman, mengatakan ancaman Houthi masih nyata.
“Kondisi untuk melanjutkan serangan terhadap kapal sekarang lebih permisif daripada kapan pun sejak tahun 2023,” ujarnya.
“Arsitektur pasukan darat yang sebelumnya membatasi operasi pesisir mereka telah dihapus. Jika mereka bertindak, kemampuan untuk merespons dari dalam Yaman sama sekali tidak ada seperti sebelumnya,” lanjut dia.
Hubungan Saudi-AS Mulai Dipertanyakan
Di tengah situasi tersebut, sejumlah pejabat Teluk menilai harapan besar negara-negara Arab terhadap kembalinya Trump ke Gedung Putih mulai memudar.
Sebelumnya, negara-negara Teluk meningkatkan produksi minyak, menjanjikan investasi besar ke AS, serta memberi sambutan mewah demi menjaga hubungan strategis dan stabilitas kawasan.
Namun kini, sebagian pejabat menilai kebijakan Washington justru memperburuk situasi regional.
Meski MBS diperkirakan tidak akan mengakui perubahan sikap secara terbuka, para diplomat Teluk meyakini kebijakan Arab Saudi terhadap Iran akan bergeser ke arah yang lebih hati-hati.
Kerajaan disebut masih mampu menghadapi satu blokade, tetapi menolak risiko blokade kedua yang bisa memicu krisis lebih besar dan biaya ekonomi sangat mahal, bahkan bagi eksportir minyak terbesar di kawasan.