TEHERAN, IRAN — Otoritas Iran menangkap empat orang yang dituduh bekerja untuk badan intelijen Israel, Mossad. Keempat tersangka disebut membocorkan informasi sensitif terkait lokasi fasilitas militer Iran kepada Israel.
Penangkapan diumumkan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, saat pejabat Amerika Serikat dikabarkan tengah membahas kemungkinan lanjutan perundingan damai dengan Teheran setelah konflik bersenjata Iran dengan koalisi AS-Israel pada akhir Februari lalu.
Media pemerintah Iran, IRNA, mengutip pernyataan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Kamis (16/4/2026), yang menyebut operasi penangkapan dilakukan di Provinsi Gilan, wilayah utara Iran.
“Empat agen yang terkait dengan Mossad ditangkap di provinsi Gilan di Iran utara,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip IRNA.
Menurut IRGC, para tersangka diduga mengirimkan data penting melalui jaringan internet kepada intelijen Israel.
“Para tersangka telah memberikan gambar dan lokasi beberapa situs militer dan keamanan yang sensitif dan penting kepada petugas intelijen Mossad melalui internet,” lanjut pernyataan tersebut.
Saat ini, keempat orang itu telah diserahkan kepada otoritas kehakiman Iran untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Ketegangan Regional Belum Mereda
Langkah Iran menangkap tersangka mata-mata terjadi ketika situasi keamanan di Timur Tengah masih rapuh. Gencatan senjata yang menghentikan perang selama beberapa pekan terakhir disebut masih berada dalam kondisi tidak stabil.
Sebelumnya, konflik terbuka pecah setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu eskalasi besar di kawasan dan mengganggu jalur perdagangan energi global.
Meski terdapat wacana pembicaraan damai baru, pernyataan pejabat tinggi Iran menunjukkan sikap keras terhadap Washington.
Iran Tantang Invasi Darat AS
Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohsen Rezaei, melontarkan pernyataan tajam kepada Amerika Serikat. Ia menantang Washington untuk melakukan invasi darat ke Iran.
“Karena kami akan menyandera ribuan orang dan kemudian untuk setiap sandera kami akan mendapatkan satu miliar dolar,” kata Rezaei.
Tokoh yang dikenal sebagai figur garis keras itu juga menyatakan tidak mendukung perpanjangan gencatan senjata. Menurut dia, keputusan terkait hal tersebut berada di tangan pejabat berwenang.
“Masalah tersebut tergantung pada keputusan para pejabat terkait,” ujarnya.
Rezaei juga meminta pemerintah Iran lebih waspada dalam setiap negosiasi ekonomi dengan Amerika Serikat. Ia mengeklaim posisi Iran lebih kuat dalam perundingan mendatang.
“Tidak seperti Amerika yang takut akan perang yang berkelanjutan, kami sepenuhnya siap dan terbiasa dengan perang yang panjang,” katanya.
Ancaman terhadap Armada AS di Selat Hormuz
Dalam pernyataan terpisah di televisi Iran, Rezaei juga mengancam kapal perang Amerika Serikat yang berada di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dunia.
Ia menyinggung rencana AS memperketat pengawasan jalur pelayaran tersebut setelah Iran sempat menutup akses maritim selama lebih dari enam pekan konflik.
“Trump ingin menjadi polisi Selat Hormuz. Apakah ini benar-benar tugas Anda? Apakah ini tugas tentara yang kuat seperti AS?” kata Rezaei.
Ia juga menyebut sistem rudal Iran telah diarahkan ke kapal induk USS Abraham Lincoln dan armada perang lainnya.
“Peluncur rudal kemungkinan besar telah dipindahkan oleh saudara-saudara kami dan sekarang diarahkan ke Abraham Lincoln dan semua kapal perang Amerika,” ujarnya.
“Kapal-kapal Anda ini akan ditenggelamkan oleh rudal pertama kami. Kami tidak akan membiarkan satu pun lolos dari kami,” lanjut Rezaei.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Baru
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik Iran dan Amerika Serikat. Jalur laut itu merupakan rute utama distribusi minyak mentah global, sehingga setiap gangguan berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Washington terkait ancaman terbaru yang dilontarkan pejabat Iran tersebut. Namun, meningkatnya retorika kedua pihak memunculkan kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang sedang berlangsung dapat sewaktu-waktu runtuh.