Sebuah era bersejarah dalam industri hiburan global segera berakhir. Reed Hastings, otak di balik revolusi streaming dunia, mengumumkan akan mundur dari dewan direksi Netflix Inc. saat masa jabatannya habis pada rapat tahunan Juni mendatang. Langkah ini menandai berakhirnya perjalanan panjang 29 tahun pria yang mengubah Netflix dari sekadar layanan penyewaan DVD lewat pos menjadi raksasa hiburan paling bernilai di bumi.
Hastings, yang saat ini menjabat sebagai ketua, memilih untuk mencurahkan energinya pada kegiatan filantropi dan berbagai proyek pribadi, termasuk pengembangan resor ski di Utah.
Warisan Sang Penguasa Abad ke-21
Dunia mengenal Hastings sebagai pengusaha yang tak kenal takut. Sejak mengambil alih kursi CEO dari Marc Randolph pada 1999, ia berhasil menumbangkan raksasa Blockbuster dan memimpin transformasi radikal menuju era video digital.
Di bawah arahannya, Netflix berekspansi ke lebih dari 190 wilayah, mengalahkan studio-studio tua Hollywood dalam perebutan atensi pemirsa global. Kepergiannya memicu sentimen emosional sekaligus kekhawatiran bagi investor yang selama ini mengandalkan visinya.
“Netflix telah mengubah hidup saya dalam banyak hal. Terima kasih khusus kepada Greg dan Ted,” ujar Hastings dalam pernyataan resminya.
Laba Melandai, Saham Langsung Terkoreksi
Pengumuman mundurnya Hastings dibarengi dengan laporan keuangan kuartal pertama yang memberikan sinyal beragam. Meski pendapatan naik menjadi US$12,3 miliar berkat pertumbuhan pelanggan yang solid, proyeksi laba ke depan justru di bawah ekspektasi pasar.
Netflix memperkirakan laba per saham untuk kuartal berjalan sebesar 78 sen, lebih rendah dari prediksi Wall Street sebesar 84 sen. Akibatnya, saham Netflix sempat anjlok hingga 9% dalam perdagangan setelah jam bursa.
Strategi Pasca-Hastings: Konten dan Teknologi
Sepeninggal Hastings, kemudi perusahaan kini sepenuhnya berada di tangan duo Co-CEO, Ted Sarandos dan Greg Peters. Keduanya kini memikul beban berat untuk meyakinkan investor bahwa Netflix masih punya “peluru” meski waktu tonton pengguna cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir.
Tiga prioritas utama kini dicanangkan:
-
Konten Berkualitas: Meningkatkan belanja konten orisinal meski berisiko menekan margin laba.
-
Inovasi Teknologi: Mengintegrasikan teknologi baru untuk meningkatkan pengalaman pengguna.
-
Monetisasi: Mengoptimalkan pendapatan dari setiap pelanggan di tengah persaingan yang makin jenuh.
Menariknya, Sarandos dan Peters sempat mempertimbangkan akuisisi besar seperti Warner Bros. Discovery Inc., sebuah langkah yang selama ini dihindari Hastings demi menjaga budaya asli perusahaan. Meski akhirnya mundur karena harga yang terlalu tinggi, langkah ini menunjukkan bahwa manajemen baru mulai berani mengambil risiko berbeda dari gaya “konservatif” Hastings.
Bagi Hastings, perjalanan dari amplop merah DVD hingga layar pintar di setiap rumah telah usai. Kini, sang maestro siap menulis babak baru di luar gemerlap layar streaming.