ABU DHABI,UEA – Wacana mengenai masa depan kehadiran militer Amerika Serikat di Uni Emirat Arab (UEA) kembali mencuat setelah seorang akademisi terkemuka di negara itu menyerukan peninjauan ulang keberadaan pangkalan militer Washington di wilayah Emirat.
Profesor ilmu politik Dr Abdulkhaleq Abdulla menilai UEA tidak lagi membutuhkan perlindungan langsung dari Amerika Serikat karena kemampuan pertahanan nasional dinilai semakin kuat dan mampu menghadapi ancaman regional secara mandiri.
Dalam pernyataannya yang dilaporkan Reuters, Selasa (21/4/2026), Abdulla menyebut performa pertahanan UEA selama serangan Iran baru-baru ini menjadi bukti bahwa negara Teluk tersebut telah memiliki kapasitas tempur yang mumpuni.
“UEA tidak lagi membutuhkan Amerika untuk membelanya, karena telah terbukti selama agresi Iran bahwa mereka mampu membela diri dengan gemilang,” ujar Abdulla.
Menurut dia, pemerintah Emirat kini lebih membutuhkan akses terhadap sistem persenjataan mutakhir dibanding keberadaan pasukan asing di wilayahnya.
“Yang dibutuhkan UEA adalah memperoleh hanya senjata terbaik dan terbaru yang dimiliki Amerika. Oleh karena itu, sudah saatnya untuk memikirkan penutupan pangkalan-pangkalan Amerika, karena pangkalan-pangkalan tersebut merupakan beban dan bukan aset strategis,” katanya.
Kehadiran Militer AS Dinilai Perlu Ditinjau
Abdulla menilai keberlanjutan pangkalan militer AS berpotensi menyeret UEA ke dalam konflik kawasan yang sejatinya tidak melibatkan negara tersebut secara langsung. Karena itu, ia mendorong Abu Dhabi lebih fokus pada penguatan pertahanan nasional dan modernisasi alutsista.
Pernyataan itu memicu perdebatan di kalangan elite dan pengamat kawasan, mengingat hubungan strategis antara UEA dan Amerika Serikat telah berlangsung selama puluhan tahun, terutama dalam bidang pertahanan, energi, dan keamanan regional.
Berdasarkan data Council on Foreign Relations, Amerika Serikat memiliki sedikitnya 19 pangkalan militer di Timur Tengah, delapan di antaranya berstatus permanen.
Sebelum perang regional pecah, sekitar 40 ribu personel militer AS ditempatkan di kawasan tersebut. Sekitar 3.500 tentara berada di UEA, termasuk di Pangkalan Udara Al-Dhafra yang digunakan bersama oleh AS, Prancis, dan UEA.
Pengamat UEA Bela Aliansi dengan Washington
Pandangan Abdulla langsung mendapat tanggapan dari komentator politik berbasis di UEA, Nadim Koteich. Melalui akun X, mantan eksekutif media itu menyatakan bahwa Washington tetap menjadi sekutu penting bagi Emirat.
“Washington telah terbukti sebagai sekutu yang dapat diandalkan di setiap bidang penting, dan tidak ada yang lebih terlihat daripada selama perang ini,” kata Koteich.
Ia menilai hubungan kedua negara tidak bisa dipersempit hanya dalam konteks militer semata. Menurutnya, kerja sama Abu Dhabi dan Washington telah berkembang jauh ke sektor teknologi, industri, serta investasi strategis.
“Namun, mereduksi hubungan hanya pada dimensi militer dan keamanannya salah menafsirkan apa yang sebenarnya telah menjadi aliansi tersebut, dan mengarah pada kesimpulan yang terburu-buru,” ujarnya.
Koteich juga menyebut Amerika Serikat menjadikan UEA sebagai mitra utama di kawasan dalam berbagai sektor masa depan.
“Memperkuat poros Abu Dhabi-Washington adalah jalan ke depan, didukung oleh jaringan pilar keuangan, regulasi, energi, dan pertahanan yang canggih yang sudah ada,” imbuhnya.
Abdulla Tegaskan Hubungan Bilateral Tetap Penting
Menanggapi kritik tersebut, Abdulla menegaskan dirinya tidak mempertanyakan hubungan diplomatik maupun strategis antara kedua negara.
Ia menilai kemitraan AS-UEA akan tetap berkembang, namun pemerintah Emirat perlu mengevaluasi secara rasional manfaat keberadaan pangkalan militer asing terhadap sistem pertahanan nasional.
“Namun, sudah saatnya untuk meninjau nilai tambah pangkalan AS terhadap portofolio pertahanan nasional kita,” ujarnya.
UEA Hadapi Dampak Ekonomi Berat Akibat Perang
Perdebatan ini muncul di tengah tekanan ekonomi yang dialami UEA sejak konflik regional pecah pada 28 Februari lalu, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran.
Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke Israel serta sejumlah negara Teluk. UEA disebut menjadi salah satu negara yang paling terdampak.
Hingga akhir Maret, Iran dilaporkan telah menembakkan 398 rudal balistik, 1.872 drone, dan 15 rudal jelajah ke wilayah Emirat.
Meski sebagian besar serangan berhasil dicegat sistem pertahanan udara, sejumlah puing tetap menimbulkan kerusakan di Abu Dhabi dan Dubai. Beberapa area terdampak antara lain kawasan Burj Al Arab, Palm Jumeirah, Bandara Dubai, serta zona industri minyak Fujairah.
Dari sisi ekonomi, lebih dari USD120 miliar nilai kapitalisasi pasar dilaporkan menguap dari bursa saham Dubai dan Abu Dhabi dalam beberapa pekan terakhir.
Selain itu, lebih dari 18.400 penerbangan dibatalkan, sementara indeks properti Dubai turun sedikitnya 16 persen sejak konflik dimulai.
Situasi tersebut menambah tekanan bagi ekonomi UEA yang sangat bergantung pada sektor pariwisata, properti, logistik, dan jasa keuangan.