JAKARTA – Presiden AS, Donald Trump mengumumkan pada Kamis bahwa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon diperpanjang selama tiga minggu.
Pengumuman itu muncul setelah pertemuan di Ruang Oval dengan perwakilan tingkat tinggi kedua negara, meski beberapa jam sebelumnya Hizbullah menyatakan akan menyerang Israel.
Trump menyampaikan kabar tersebut melalui Truth Social yang dilansir Türkiyetoday, Jumat (24/4/2026), menyebut pertemuan itu sebagai “bersejarah” dan menegaskan komitmen AS bekerja sama dengan Lebanon “untuk membantunya melindungi diri dari Hizbullah.” Perpanjangan ini memperluas gencatan senjata yang semula berlaku 10 hari sejak 16 April, kini hingga pertengahan Mei.
Pertemuan di Gedung Putih dihadiri Wakil Presiden JD Vance, Menlu Marco Rubio, Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee, Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa, serta utusan khusus Steve Witkoff, bersama duta besar Israel dan Lebanon. Trump menyatakan berharap segera menjamu PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, menyebut momentum ini sebagai hasil dari “upaya selama beberapa dekade” dan menegaskan, “Kita akan terus berupaya, bekerja untuk perdamaian. Semoga kita akan mendapatkannya secepat mungkin.”
Sementara Duta Besar Lebanon Nada Hamadeh Moawad berterima kasih kepada Trump atas “momen bersejarah ini” dan menambahkan, “Dengan dukungan Amerika, kita dapat menjadikan Lebanon hebat kembali.”
Trump juga menekan Iran agar menghentikan dukungan finansial dan logistik terhadap Hizbullah. “Ya, mereka harus menghentikannya. Itu suatu keharusan,” tegasnya.
Huckabee, utusan AS untuk Israel, menggambarkan dinamika Lebanon–Israel dengan analogi tetangga: “Rakyat Lebanon dan rakyat Israel adalah tetangga dan mereka ingin hidup rukun. Tetapi ini seperti tetangga yang memiliki anak kecil nakal… jika anak itu berhenti melempar batu, para tetangga dapat hidup rukun.”
Trump diperkirakan akan menindaklanjuti dengan pertemuan langsung bersama Netanyahu dan Aoun, menandai bahwa Washington melihat momentum diplomatik ini sebagai landasan negosiasi jangka panjang, bukan sekadar jeda sementara.