BLORA — Program revitalisasi sekolah mengubah wajah SMAN 1 Jepon di Kabupaten Blora, Jawa Tengah dari kondisi bangunan yang sebelumnya membahayakan menjadi lingkungan belajar yang jauh lebih aman dan nyaman.
Kerusakan infrastruktur sempat menjadi ancaman serius bagi keselamatan siswa, mulai dari ubin retak dengan ujung tajam hingga plafon berlubang yang berpotensi runtuh sewaktu-waktu.
Kondisi tersebut diperparah dengan pintu kelas yang rapuh serta jendela tanpa kaca yang membuat suasana belajar terganggu dan jauh dari kata layak.
Fasilitas sanitasi pun tak kalah memprihatinkan, di mana urinoir menghitam dan wastafel nyaris terlepas dari dinding sehingga menimbulkan ketidaknyamanan bagi siswa.
Program revitalisasi sekolah kemudian hadir sebagai solusi konkret untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut sekaligus meningkatkan kualitas sarana pendidikan.
Perbaikan difokuskan pada tiga ruang kelas dan satu gedung indoor yang sebelumnya mengalami kerusakan cukup parah.
“Sebelum kegiatan revitalisasi ini, memang untuk tiga gedung yang ada di sini ada cukup banyak kerusakan,” kata Dody.
Berdasarkan informasi proyek yang terpasang di area sekolah, total anggaran revitalisasi mencapai Rp1,6 miliar yang bersumber dari Bantuan Kemasyarakatan Presiden melalui Panitia Revitalisasi Sekolah.
Proses pembangunan berlangsung selama 120 hari, dimulai sejak 29 Desember 2025 hingga dijadwalkan selesai pada 28 April 2026 dengan metode swakelola.
Kini, hasil revitalisasi mulai terlihat dengan perubahan signifikan pada tampilan dan struktur bangunan sekolah.
Ruang kelas yang sebelumnya rusak kini tampil lebih kokoh dengan desain yang lebih tinggi sehingga menciptakan sirkulasi udara dan kenyamanan belajar yang lebih baik.
Interior ruangan juga tampak lebih luas dan terang berkat penggunaan warna cat cerah yang mendukung suasana belajar yang kondusif.
“Ini gedung juga sedikit ditinggikan, sehingga jauh lebih nyaman bagi anak-anak untuk pembelajaran. Jadi, kami sangat terbantu dengan bantuan yang kami dapatkan ini,” kata Dody.
Transformasi ini menjadi bukti bahwa revitalisasi sekolah tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga meningkatkan kualitas pengalaman belajar siswa secara menyeluruh.***