JAKARTA – Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance meragukan akurasi laporan Pentagon terkait perang Iran dan menyampaikan langsung kepada Presiden Donald Trump kekhawatiran mengenai kondisi stok rudah AS.
Pernyataan itu diungkapkan sejumlah penasihat Vance kepada The Atlantic dalam laporan yang dipublikasikan pada Senin.
Dilansir Anadolu, Rabu (29/4/2026), menurut para penasihat, Vance menyampaikan pandangan tersebut sebagai opini pribadi, tanpa menuduh Menteri Pertahanan Pete Hegseth maupun Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine menyesatkan presiden. Trump sendiri berulang kali menggemakan pernyataan Hegseth dan Caine dengan klaim bahwa AS telah “sepenuhnya” menghancurkan militer Iran, sembari mengabaikan kerugian yang ditimbulkan terhadap aset militer AS di kawasan.
Kerugian itu antara lain berupa terkurasnya stok rudal pencegat akibat serangan drone murah dan rudal berbiaya rendah yang diluncurkan Iran. Dalam unggahan media sosial 2 Maret, Trump menyatakan stok amunisi AS berada pada tingkat tertinggi dan menegaskan perang dapat berlangsung “selamanya” dengan persediaan tersebut.
Namun, analisis independen menunjukkan hal berbeda. Laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pekan lalu memperkirakan butuh hingga empat tahun untuk memulihkan stok rudal ke tingkat sebelum perang, mengingat lamanya produksi serta persaingan global. Bahkan sebelum konflik, stok dinilai tidak memadai untuk menghadapi kekuatan setara.
Penilaian intelijen AS juga menyebut Iran masih menguasai sekitar dua pertiga kekuatan angkatan udara, mayoritas kemampuan rudal balistik, serta kapal cepat untuk menanam ranjau di Selat Hormuz. Sejak gencatan senjata 7 April, Iran disebut kembali mengakses sekitar setengah peluncur rudal balistiknya.
Juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan kepada The Atlantic bahwa presiden selalu mendapat gambaran lengkap dari pejabat pertahanan. Sementara seorang pejabat senior pemerintahan Trump menyatakan presiden tidak mempermasalahkan informasi yang diberikan Pentagon.