JAKARTA – Tren kuliner global kembali mengalami pergeseran menarik.
- Dari Bahan Tradisional ke Tren Global
- Saingan Baru Matcha di Dunia Kuliner
- Didorong Media Sosial dan Tren Visual
- Bagaimana Tren Ubi Ungu di Indonesia?
- 1. Bagian dari Tren Dessert Sehat
- 2. Inovasi Menu di Café dan UMKM
- 3. Kekuatan Visual dan Media Sosial
- 4. Potensi Bahan Lokal yang Besar
- Inovasi Dessert yang Terus Berkembang
Setelah beberapa tahun didominasi oleh matcha, kini ubi ungu mulai mencuri perhatian.
Warna ungu cerah yang mencolok, dipadukan dengan rasa manis lembut dan sedikit gurih, membuat bahan ini semakin populer di berbagai belahan dunia.
Dari Bahan Tradisional ke Tren Global
Ubi ungu telah lama dikenal sebagai bahan pangan tradisional di Asia, terutama di Filipina dan beberapa negara Asia Tenggara.
Dahulu, bahan ini lebih sering diolah menjadi makanan rumahan seperti kue dan selai.
Namun kini, popularitasnya meluas secara global. Ubi ungu mulai diadaptasi menjadi berbagai menu modern seperti latte, es krim, hingga pastry di café-café internasional.
Pergeseran tren ini menunjukkan bagaimana bahan lokal bisa naik kelas menjadi komoditas global yang bernilai tinggi.
Saingan Baru Matcha di Dunia Kuliner
Jika matcha dikenal dengan rasa pahit khas teh hijau, ubi ungu menawarkan rasa yang lebih ramah di lidah manis, creamy, dan ringan.
Hal ini membuatnya lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Selain itu, warna ungu pastel yang unik memberikan daya tarik visual yang kuat.
Dalam era digital saat ini, tampilan makanan menjadi faktor penting, bahkan sering kali menentukan apakah suatu produk bisa viral atau tidak.
Didorong Media Sosial dan Tren Visual
Media sosial menjadi salah satu faktor utama meningkatnya popularitas ubi ungu.
Konten makanan dengan warna mencolok cenderung lebih menarik perhatian dan mudah dibagikan.
Fenomena ini juga terlihat dari banyaknya konten viral yang menampilkan minuman dan dessert berbahan ubi ungu.
Warna yang “instagramable” membuatnya cepat menarik minat generasi muda, terutama pengguna TikTok dan Instagram.
Bagaimana Tren Ubi Ungu di Indonesia?
Di Indonesia, tren ubi ungu mulai berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap dessert yang tidak hanya enak, tetapi juga menarik secara visual dan lebih sehat.
Beberapa faktor yang mendorong tren ini di Indonesia antara lain:
1. Bagian dari Tren Dessert Sehat
Ubi ungu mulai dilirik sebagai bahan alami pengganti pewarna buatan sekaligus sumber rasa manis alami.
Dalam tren dessert 2025, bahan seperti ubi ungu digunakan untuk menciptakan tekstur creamy tanpa tambahan bahan kimia berlebih.
Hal ini sejalan dengan gaya hidup masyarakat Indonesia yang semakin sadar akan kesehatan, terutama di kalangan milenial dan Gen Z.
2. Inovasi Menu di Café dan UMKM
Banyak café lokal dan pelaku UMKM mulai menghadirkan menu berbasis ubi ungu, seperti:
- Ubi ungu latte
- Donat isi krim ubi ungu
- Dessert box dan cheesecake
- Roti dan croissant dengan isian ubi ungu
Inovasi ini membuat ubi ungu tidak lagi dianggap sebagai bahan tradisional, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup modern.
3. Kekuatan Visual dan Media Sosial
Sama seperti tren global, di Indonesia ubi ungu juga viral karena tampilannya.
Warna ungu yang kontras membuat produk lebih menonjol di feed media sosial.
Tren makanan dengan visual menarik bahkan diprediksi akan terus mendominasi industri kuliner, karena konsumen kini tidak hanya “makan dengan lidah”, tetapi juga dengan mata.
4. Potensi Bahan Lokal yang Besar
Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar dalam produksi ubi, termasuk ubi ungu.
Hal ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produk berbasis bahan lokal dengan nilai jual tinggi.
Jika dimanfaatkan dengan baik, ubi ungu bisa menjadi komoditas unggulan, bukan hanya untuk pasar domestik tetapi juga ekspor.
Inovasi Dessert yang Terus Berkembang
Saat ini, ubi ungu telah diolah menjadi berbagai bentuk dessert modern seperti:
- Es krim dan gelato
- Minuman latte dan milk-based
- Cake, brownies, dan pastry
- Dessert box kekinian
Teksturnya yang lembut serta warnanya yang alami menjadikannya bahan yang fleksibel untuk berbagai kreasi kuliner.
Ubi ungu bukan sekadar tren sesaat. Kombinasi antara rasa yang lezat, tampilan yang menarik, serta dukungan media sosial membuatnya memiliki potensi besar untuk bertahan dalam jangka panjang.
Di Indonesia sendiri, tren ini mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan didukung oleh inovasi pelaku usaha, meningkatnya kesadaran gaya hidup sehat, dan kekuatan visual di era digital.
Meski matcha belum sepenuhnya tergeser, kehadiran ubi ungu jelas membawa warna baru dalam dunia kuliner dan bisa jadi, ini baru permulaan. (FB)