NEW YORK, AS — Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent memprediksi harga minyak dunia akan turun dalam tiga hingga sembilan bulan ke depan. Ia menilai lonjakan harga akibat konflik geopolitik hanya bersifat sementara, dengan potensi penurunan didorong oleh bertambahnya pasokan global.
Dalam wawancara dengan Fox News akhir pekan lalu, Bessent menyoroti dua faktor utama yang diyakini akan menekan harga minyak, yakni keluarnya Uni Emirat Arab dari OPEC serta potensi kembalinya ribuan kapal tanker ke pasar setelah meredanya krisis di Selat Hormuz.
“Pasar sudah memperkirakan harga energi akan lebih rendah di akhir tahun,” kata Bessent. Ia bahkan menyebut harga minyak berpotensi turun di bawah level awal 2025 sebelum konflik AS-Iran memanas.
Harga Sempat Tembus Level Tertinggi
Pernyataan tersebut muncul setelah harga minyak mentah jenis Brent crude oil sempat melonjak di atas 126 dolar AS per barel pada 30 April—level tertinggi sejak 2022. Kenaikan ini dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta gangguan distribusi di kawasan Teluk.
Namun, harga kemudian terkoreksi ke kisaran 108 dolar AS per barel pada akhir pekan, seiring munculnya sinyal deeskalasi setelah Iran merespons proposal perdamaian dari Washington.
Sinyal Penurunan dari Pasar Futures
Indikasi penurunan harga juga tercermin di pasar berjangka. Data dari CME Group menunjukkan kontrak futures minyak mentah West Texas Intermediate untuk Desember 2026 diperdagangkan hingga 40 dolar AS lebih rendah dibanding kontrak bulan berjalan.
Fenomena backwardation tajam ini mengindikasikan pasar melihat gangguan pasokan saat ini hanya sementara. Harga spot bahkan diperkirakan bisa turun ke kisaran pertengahan 70 dolar AS per barel pada akhir tahun.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Krisis di Selat Hormuz menjadi faktor utama gejolak harga. Jalur strategis ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global, menjadikannya salah satu choke point paling vital dalam perdagangan energi dunia.
Menurut International Energy Agency, gangguan di kawasan tersebut disebut sebagai “disrupsi pasokan minyak terbesar dalam sejarah.” Laporan Al Jazeera menyebut sekitar 2.000 kapal tanker masih tertahan di kawasan Teluk akibat blokade timbal balik antara AS dan Iran.
Meski demikian, Bessent optimistis kemacetan ini tidak akan berlangsung lama. Ia mengklaim produsen minyak di kawasan Teluk mampu kembali beroperasi normal hanya dalam waktu sekitar satu minggu setelah jalur pelayaran dibuka.
UEA Keluar dari OPEC, Pasokan Diprediksi Melonjak
Keluarnya Uni Emirat Arab dari OPEC pada 1 Mei menjadi sorotan utama. Langkah ini membebaskan negara tersebut dari sistem kuota produksi kartel, membuka peluang peningkatan produksi secara signifikan.
Bessent menyebut keputusan ini sebagai perubahan struktural besar dalam pasar minyak global. “Sebagian besar monopoli pada akhirnya runtuh karena bobotnya sendiri,” ujarnya.
Laporan Reuters juga menilai keluarnya UEA dapat memicu tren perdagangan energi yang lebih terbuka serta mempercepat pengisian ulang stok minyak global.
Tantangan Masih Membayangi
Meski prospek penurunan harga cukup kuat, sejumlah hambatan tetap ada. Militer AS memperkirakan proses pembersihan ranjau di Selat Hormuz bisa memakan waktu hingga enam bulan.
Di sisi lain, perusahaan asuransi maritim masih menangguhkan perlindungan risiko perang untuk kapal tanker di kawasan tersebut, yang berpotensi memperlambat normalisasi distribusi minyak global.
Prospek: Harga Turun, Tapi Bertahap
Dengan kombinasi faktor geopolitik yang mereda dan potensi lonjakan pasokan, pasar kini mengarah pada fase koreksi harga. Namun, prosesnya diperkirakan tidak instan dan sangat bergantung pada stabilitas keamanan di Timur Tengah.
Jika blokade Selat Hormuz benar-benar berakhir dalam waktu dekat, pasar minyak global bisa mengalami banjir pasokan—yang pada akhirnya menekan harga secara signifikan dalam beberapa bulan ke depan.