Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. Seorang siswa SMKN 4 Samarinda bernama Mandala Rizky Saputra mengembuskan napas terakhirnya dalam sebuah kisah yang mengiris hati. Bukan karena kecelakaan besar, melainkan dugaan komplikasi kesehatan yang dipicu oleh hal sederhana yang sering kita abaikan: sepasang sepatu sekolah yang terlalu sempit.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur mengungkapkan bahwa Mandala dipaksa keadaan untuk terus melangkah meski kakinya menjerit kesakitan.
Keterbatasan ekonomi keluarga membuat Mandala harus mengenakan sepatu ukuran 40, padahal ukuran kaki aslinya sudah mencapai nomor 43 atau 44. Selisih ukuran yang besar ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan siksaan fisik yang ia tanggung setiap hari.
Beban itu kian berat saat Mandala menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sebuah pusat perbelanjaan di Samarinda pada Februari hingga Maret 2026. Sebagai pramuniaga, ia diwajibkan berdiri sepanjang hari. Di balik keramahannya melayani pelanggan, kaki Mandala membengkak hebat akibat tekanan sepatu yang tak layak.
Kronologi Menurunnya Kesehatan Mandala
Kesehatan Mandala mulai ambruk usai masa magang berakhir. Pada 31 Maret 2026, sekolah memulangkannya karena kondisi fisiknya yang terus menurun dan sering mengeluh pusing. Sejak saat itu, ia tak pernah lagi duduk di bangku kelas.
Fakta memilukan terungkap saat wali kelas mencoba menelusuri kondisi Mandala. Pihak keluarga ternyata sempat mengalami kesulitan finansial yang akut untuk membawa Mandala berobat. Bahkan, keluarga diketahui memiliki tunggakan biaya pengobatan sebesar Rp2,4 juta, ditambah fakta bahwa keluarga ini tidak terdaftar sebagai penerima bantuan sosial pemerintah mana pun.
Pihak SMKN 4 Samarinda sebenarnya telah berupaya membantu dengan mencairkan bantuan biaya pengobatan sebesar Rp1,1 juta dan mengurus kepesertaan BPJS bagi Mandala. Saat dikunjungi guru di rumahnya, kondisi kaki Mandala sempat dilaporkan membaik dan bengkaknya mulai mengempis.
Pihak sekolah bahkan sudah berencana membelikan sepatu baru yang sesuai dengan ukuran kaki Mandala agar ia bisa kembali bersekolah dengan nyaman. Namun, takdir berkata lain. Pada 24 April 2026, kabar duka itu datang; Mandala meninggal dunia sebelum sempat merasakan sepatu baru pemberian sekolahnya.
Sebuah Pelajaran Berharga
Hingga kini, belum ada diagnosa medis pasti mengenai penyebab kematian Mandala karena keterlambatan penanganan di fasilitas kesehatan. Namun, kejadian ini menjadi pengingat keras tentang betapa nyata kemiskinan berdampak pada nyawa seorang siswa.
“Karena tidak ada diagnosa medis resmi, kita tidak dapat menyimpulkan secara mutlak. Namun, kenyataannya kondisi fisiknya memang menurun drastis sejak masalah sepatu itu mencuat,” jelas perwakilan Disdikbud Kaltim.
Kini, Mandala telah pergi, meninggalkan sepasang sepatu sempitnya sebagai saksi bisu perjuangan seorang anak manusia dalam menjemput ilmu di tengah keterbatasan.