JAKARTA – Pasar saham global melesat tajam pada Rabu, 6 Mei 2026, seiring turunnya harga minyak dunia akibat meningkatnya optimisme terhadap potensi kesepakatan damai Iran-AS yang sebelumnya memicu krisis energi global.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang “kemajuan besar” dalam negosiasi dengan Teheran menjadi katalis utama yang meredakan ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi sekitar 20 persen minyak dan gas dunia yang sempat diblokade sejak akhir Februari.
Seiring meredanya kekhawatiran pasokan energi, harga minyak Brent turun 3,2 persen ke level 106,40 dolar AS per barel, memberikan ruang bagi pasar saham untuk melanjutkan reli yang telah dimulai sejak awal pekan.
Di kawasan Eropa, indeks STOXX 600 menguat 1,5 persen setelah sehari sebelumnya juga mencatat kenaikan, sementara indeks global MSCI All-Country World Index mencetak rekor tertinggi baru dengan kenaikan 0,7 persen.
Di Amerika Serikat, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,3 persen setelah indeks utama tersebut ditutup di level tertinggi sepanjang masa, didorong oleh laporan keuangan perusahaan yang solid serta euforia terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kepala pasar global ING, Chris Turner, mengatakan bahwa investor ekuitas saat ini masih agresif dalam menempatkan dana dan merespons cepat sentimen positif dari kawasan Teluk.
“Investor tampaknya terus memburu peluang dan langsung bereaksi terhadap kabar yang bernada positif dari Timur Tengah,” ujarnya dikutip Reuters, Rabu.
Di Asia, reli saham semakin kuat dengan indeks Asia Pasifik di luar Jepang melonjak 2,9 persen, dipimpin oleh lonjakan 6,5 persen indeks KOSPI Korea Selatan yang kembali dibuka setelah libur panjang.
Saham Samsung Electronics melesat 14 persen hingga menembus kapitalisasi pasar 1 triliun dolar AS dan melampaui Berkshire Hathaway, mempertegas dominasi sektor teknologi dalam fase reli saat ini.
Optimisme terhadap AI juga diperkuat oleh lonjakan saham Advanced Micro Devices (AMD) sebesar 16 persen setelah perusahaan memproyeksikan pendapatan kuartal kedua melampaui ekspektasi pasar, menandakan permintaan tinggi terhadap chip AI.
Menurut Rushil Khanna dari Ostrum Asset Management, belanja modal besar-besaran oleh perusahaan teknologi di AS telah menciptakan prospek pertumbuhan luar biasa bagi sektor semikonduktor, perangkat keras, industri, dan material di Asia.
Di pasar valuta asing, yen Jepang menguat hingga 1,8 persen terhadap dolar AS ke level 155, dipicu spekulasi intervensi pemerintah Jepang untuk menopang mata uangnya yang melemah.
Sementara itu, indeks dolar AS melemah 0,3 persen terhadap mata uang utama lainnya, mencerminkan berkurangnya permintaan aset safe haven seiring meredanya ketegangan geopolitik.
Penurunan harga minyak turut menekan imbal hasil obligasi pemerintah, dengan yield obligasi AS tenor 10 tahun turun 5 basis poin ke 4,37 persen, mengindikasikan ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan suku bunga.
Meski pasar saham mencetak rekor, harga minyak masih sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah, menandakan dampak geopolitik terhadap ekonomi global belum sepenuhnya mereda.
Indonesia hingga penutupan perdagangan hari ini, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 0,34 persen atau naik 24,28 poin ke level 7.081,39.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terapresiasi 0,21 persen atau naik 36,50 poin ke posisi Rp17.387 per dolar AS.***