JAKARTA – Tanggal 13 Mei tercatat sebagai salah satu hari yang menyimpan banyak peristiwa besar dalam sejarah dunia maupun Indonesia. Mulai dari lahirnya ajang balap paling bergengsi Formula 1, kerusuhan rasial berdarah di Malaysia, percobaan pembunuhan terhadap Paus, tragedi Reformasi 1998 di Indonesia, hingga aksi bom bunuh diri keluarga di Surabaya yang mengguncang dunia.
Sejumlah peristiwa tersebut meninggalkan jejak mendalam, baik dalam sejarah politik, sosial, olahraga, maupun keamanan global.
Berikut Jejak Peristiwa Penting 13 Mei.
Formula 1 Digelar Perdana di Silverstone
Dunia olahraga otomotif memasuki babak baru pada 13 Mei 1950 saat ajang Formula 1 pertama kali digelar di Sirkuit Silverstone, Inggris.
Balapan tersebut menjadi tonggak lahirnya kejuaraan balap mobil kursi tunggal paling elite di dunia. Pada seri perdana itu, pebalap asal Italia, Giuseppe Farina, sukses keluar sebagai pemenang bersama tim Alfa Romeo.
Sejak saat itu, Formula 1 berkembang menjadi olahraga global dengan jutaan penggemar dan melahirkan banyak legenda lintasan seperti Michael Schumacher, Ayrton Senna, hingga Lewis Hamilton.
Silverstone pun dikenang sebagai saksi awal lahirnya era modern balap Formula 1.
Kerusuhan Rasial Berdarah di Kuala Lumpur
Pada 13 Mei 1969, Malaysia diguncang kerusuhan rasial antara etnis Melayu dan Tionghoa di Kuala Lumpur.
Bentrok dipicu ketegangan sosial dan ketimpangan ekonomi yang telah lama membayangi hubungan antar-etnis di negara tersebut. Situasi memanas usai hasil pemilu memunculkan rivalitas politik dan sentimen identitas.
Kerusuhan berubah menjadi tragedi berdarah yang menewaskan ratusan orang. Pemerintah Malaysia kala itu menetapkan keadaan darurat nasional untuk meredam kekacauan.
Peristiwa 13 Mei kemudian menjadi salah satu tragedi paling sensitif dalam sejarah modern Malaysia dan memengaruhi kebijakan politik serta ekonomi negara tersebut selama bertahun-tahun.
Paus Yohanes Paulus II Ditembak di Vatikan
Dunia Katolik dikejutkan dengan upaya pembunuhan terhadap Paus Yohanes Paulus II pada 13 Mei 1981.
Pemimpin Gereja Katolik Roma ke-264 itu ditembak oleh Mehmet Ali Ağca di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, saat menyapa umat.
Paus mengalami luka serius akibat tembakan yang mengenai bagian perut dan tangan. Meski demikian, nyawanya berhasil diselamatkan setelah menjalani operasi intensif.
Pelaku penembakan, Mehmet Ali Ağca, diketahui merupakan warga Turki yang sebelumnya pernah membunuh jurnalis ternama Turki, Abdi İpekçi, pada 1979.
Peristiwa itu mengguncang dunia internasional. Namun, Paus Yohanes Paulus II kemudian menunjukkan sikap mengejutkan dengan memaafkan pelaku penembakan saat mengunjunginya di penjara beberapa tahun kemudian.
Kerusuhan Mei 1998 Guncang Indonesia dan Akhiri Orde Baru
Indonesia mengalami salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah modern pada 13 hingga 15 Mei 1998.
Kerusuhan besar pecah di berbagai wilayah, terutama Jakarta, di tengah krisis moneter yang menghantam ekonomi nasional dan memicu kemarahan publik terhadap pemerintahan Orde Baru.
Gelombang demonstrasi mahasiswa yang menuntut reformasi semakin memanas setelah empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembak aparat pada 12 Mei 1998.
Situasi kemudian berubah menjadi chaos. Sejumlah pusat perbelanjaan, toko, kendaraan, dan gedung dibakar massa. Kerusuhan juga disertai penjarahan, tindak kriminal, hingga kekerasan seksual yang banyak menimpa perempuan etnis Tionghoa.
Jakarta menjadi episentrum kerusuhan, namun gelombang kekacauan turut merembet ke sejumlah kota lain di Indonesia.
Peristiwa tersebut menelan banyak korban jiwa serta menyebabkan kerugian ekonomi dalam jumlah besar.
“Kerusuhan menyebabkan pembakaran toko, pusat perbelanjaan, dan kendaraan. Aksi kekerasan juga mengarah pada sentimen rasial terhadap etnis Tionghoa serta memicu berbagai tindak kriminal, termasuk kekerasan seksual.”
Tekanan publik yang terus membesar akhirnya memaksa Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 setelah lebih dari tiga dekade berkuasa.
Lengsernya Soeharto menjadi titik akhir era Orde Baru sekaligus membuka gerbang Reformasi di Indonesia.
Bom Bunuh Diri Surabaya Gegerkan Dunia
Tanggal 13 Mei juga menjadi hari kelam bagi Indonesia setelah serangkaian bom bunuh diri mengguncang Surabaya, Jawa Timur, pada 2018.
Tiga gereja menjadi target serangan, yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan.
Ledakan terjadi hampir bersamaan saat jemaat tengah melaksanakan ibadah Minggu pagi. Sedikitnya 18 orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Aparat mengungkap pelaku merupakan satu keluarga yang terafiliasi dengan kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD), jaringan pendukung ISIS di Indonesia.
“Pelaku melibatkan istri dan anak-anaknya dalam aksi teror, yang menjadi salah satu kasus pertama aksi bom bunuh diri keluarga di dunia.”
Aksi tersebut mengejutkan publik internasional karena melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak.
Beberapa jam setelah serangan di gereja, ledakan kembali terjadi di sebuah rumah susun di Wonocolo, Sidoarjo. Sehari kemudian, bom bunuh diri kembali mengguncang Markas Polrestabes Surabaya.
Rangkaian teror itu memperlihatkan perubahan pola aksi kelompok ekstremis di Indonesia dan menjadi momentum penguatan langkah antiteror oleh aparat keamanan.