Gelaran Piala Dunia 2026 yang digadang-gadang bakal membawa berkah ekonomi luar biasa bagi Amerika Serikat kini justru dihantui kecemasan besar. Alih-alih memicu lonjakan turis, angka pemesanan hotel di hampir seluruh kota penyelenggara dilaporkan anjlok jauh di bawah ekspektasi.
Laporan mengejutkan ini dirilis oleh American Hotel & Lodging Association (AHLA)—asosiasi perhotelan terbesar di AS yang menaungi lebih dari 32.000 properti. AHLA menegaskan, realitas sepinya pemesan di lapangan sangat kontras dengan klaim FIFA yang sesumbar bahwa lebih dari 5 juta tiket pertandingan telah ludes terjual. Kurang dari tiga minggu menjelang laga pembuka pada 11 Juni mendatang, mimpi meraup cuan triliunan rupiah terancam layu sebelum berkembang.
Trik ‘Kamar Gaib’ FIFA Dituding Jadi Biang Kerok
Industri perhotelan AS menunjuk hidung FIFA sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kekacauan ini. AHLA menuduh badan sepak bola dunia tersebut melakukan block-booking atau memesan kamar dalam jumlah yang jauh terlalu besar untuk kepentingan internal mereka sendiri.
Aksi FIFA ini menciptakan “permintaan palsu” (artificial demand) di pasar. Akibatnya, sistem membaca bahwa pasokan kamar menipis, yang kemudian memicu lonjakan harga kamar hotel secara tidak wajar (artifisial). Ironisnya, setelah harga melambung tinggi, FIFA justru membatalkan pesanan kamar tersebut secara massal dalam jumlah besar.
Tak tanggung-tanggung, AHLA mencatat hingga 70% kamar yang awalnya dipesan oleh FIFA di kota-kota besar seperti Boston, Dallas, Los Angeles, Philadelphia, dan Seattle, mendadak dibatalkan. Efeknya, hotel-hotel kini ditinggalkan dalam kondisi ruangan yang kosong melongpong.
Meski belakangan tarif hotel terpaksa didiskon hingga 20% dalam beberapa pekan terakhir, langkah ini dinilai sudah terlambat untuk memikat kembali minat wisatawan mancanegara. Harga hotel di kota seperti Boston, misalnya, masih bertengger di atas $300 (sekitar Rp4,7 juta) per malam. Nilai yang terlampau mahal bagi kantong suporter sepak bola kebanyakan.
Bisnis Hotel Lesu, Airbnb Malah Panen Raya
Di saat bisnis hotel konvensional di ambang nestapa, platform akomodasi berbasis komunitas, Airbnb, justru tertawa lebar. Airbnb mengklaim bahwa Piala Dunia 2026 kali ini berada di jalur yang tepat untuk menjadi ajang penginapan terbesar sepanjang sejarah mereka, bahkan siap melampaui rekor Olimpiade Paris 2024 lalu.
Mendapat serangan bertubi-tubi, FIFA langsung mengeluarkan bantahan keras. Mereka mengeklaim telah mematuhi seluruh koridor kontrak dengan jaringan hotel.
Kini, satu-satunya napas buatan bagi industri perhotelan AS adalah berharap pada fase gugur (knockout rounds). Pada fase tersebut, tensi pertandingan akan naik dan suporter mau tidak mau harus melakukan pemesanan hotel secara mendadak demi mendampingi negara mereka yang lolos ke babak selanjutnya. Namun untuk menyamai prediksi awal FIFA tahun lalu—yang menyebut ajang ini akan menyumbang produk domestik bruto (PDB) AS sebesar $17,2 miliar—tampaknya hal itu kini menjadi misi yang mustahil.