Teka-teki mengenai fenomena “api gaib” yang meneror kediaman Agusyani di Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, mulai menemui titik terang. Setelah memicu lebih dari 100 titik kebakaran secara acak sejak akhir Mei 2026, tim peneliti dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Universitas Gadjah Mada (UGM) akhirnya menemukan adanya indikasi anomali struktural di bawah permukaan tanah rumah tersebut.
Mengingat skalanya yang ekstrem dan belum tercantum dalam kajian risiko bencana daerah, penanganan kasus ini sampai harus mengerahkan tim lintas institusi. Mulai dari pakar geologi UGM, UPN, BPPTKG, BRIN, hingga Tim Gegana Polda DIY diterjunkan ke lokasi untuk mengumpulkan data ilmiah demi mitigasi darurat.
Strategi Sensor Rapat: Membidik Jantung Anomali
Koordinator penelitian dari UGM, Saptono Budi Samudro, mengungkapkan bahwa timnya sengaja menerapkan metode geolistrik dengan jarak pengukuran yang sangat rapat, yakni hanya satu meter antartitik. Siasat ini terbukti ampuh memetakan kondisi bawah permukaan tanah secara mikro dan detail.
Hasilnya mengejutkan. Tim mendeteksi adanya lonjakan nilai resistivitas yang tidak wajar di area selatan bangunan rumah.
“Anomali resistivitas yang berbeda ini menunjukkan adanya material yang berbeda pula di bawah permukaan tanah,” jelas Saptono, Selasa (9/6/2026).
Menurut Saptono, indikasi anomali ini mengerucut pada dua kemungkinan besar:
-
Aktivitas Geologi: Terbentuknya rekahan atau struktur patahan baru di dalam tanah.
-
Struktur Fisik: Keberadaan material asing berupa batuan besar (boulder) yang tertanam di kedalaman tertentu.
Berbeda dengan tim UPN yang sebelumnya melakukan pemetaan skala regional untuk menjangkau kedalaman makro, tim UGM sengaja mempersempit zona radar mereka khusus di sekeliling area rumah demi mendapatkan akurasi tingkat tinggi.
Misteri Gas Rawa Purba dan Aliran Horizontal
Petunjuk emas lain yang berhasil dikantongi para peneliti adalah adanya dugaan keberadaan endapan rawa purba di bawah fondasi rumah Agusyani. Karakteristik lapisan endapan Gunung Merapi yang membentuk cekungan halus di kawasan itu disinyalir sangat berpotensi menjadi kantong-kantong akumulasi gas alami.
Kini, tim peneliti tengah memacu analisis lanjutan menggunakan gelombang radar (GPR) untuk memastikan apakah retakan tanah tersebut mengunci pasokan gas di dalamnya.
“Kalau lebih dalam, perlu pemodelan di bawah apakah ada sumbernya. Atau gas dari samping seperti dugaan teman-teman UPN yang asalnya dari Sungai Nepen sehingga ada pergerakan horizontal,” urai Saptono.
Pemilik Rumah Kelelahan Psikis dan Rugi Puluhan Juta
Di balik perdebatan ilmiah para pakar, nestapa mendalam harus ditanggung oleh keluarga Agusyani. Rumah yang sekaligus menjadi tempat usaha pemotongan ayam tersebut kini berubah mencekam karena seluruh penghuni harus berjaga 24 jam penuh demi mengantisipasi munculnya letupan api baru.
Kerugian materiil akibat kerusakan struktur bangunan, hangusnya perabotan, hingga lumpuhnya roda bisnis keluarga kini ditaksir telah menembus angka Rp50 juta hingga Rp60 juta.
“Kami jelas mengalami kelelahan fisik maupun psikis. Belum dengan kerugian finansial yang diderita akibat aktivitas ekonomi yang terganggu,” keluh H. Mutfiana, salah satu penghuni rumah, menggambarkan situasi depresi yang dialami keluarga.