JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengambil langkah tegas untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juni 2026.
Keputusan tersebut diumumkan saat kondisi perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian tinggi, terutama akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada pasar keuangan internasional dan arus modal global.
Selain menaikkan BI-Rate, bank sentral juga meningkatkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75 persen serta Lending Facility menjadi 6,50 persen sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas makroekonomi nasional.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa kebijakan tersebut dirancang untuk memperkuat daya tahan rupiah sekaligus memastikan inflasi tetap terkendali dalam target yang telah ditetapkan pemerintah.
“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global.”
“serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan Pemerintah,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, Kamis.
Langkah pengetatan moneter tersebut juga menjadi sinyal bahwa BI masih menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama di tengah meningkatnya tekanan eksternal.
Meski suku bunga dinaikkan, Bank Indonesia memastikan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk menopang aktivitas ekonomi domestik agar pertumbuhan nasional tidak kehilangan momentum.
“Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendukung kegiatan ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran,” jelasnya.
Strategi Menarik Dana Asing Masuk ke Indonesia
Kenaikan BI-Rate juga dipandang sebagai upaya meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik di mata investor global.
Dengan tingkat imbal hasil yang lebih kompetitif, instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi menarik lebih banyak aliran modal asing.
Masuknya dana investor asing akan memperkuat permintaan terhadap rupiah sehingga membantu menjaga stabilitas kurs di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
Data BI menunjukkan perkembangan yang cukup positif pada kuartal kedua tahun ini.
Sepanjang triwulan II 2026 hingga 15 Juni, Indonesia mencatat aliran masuk modal asing bersih sebesar 3,9 miliar dolar Amerika Serikat.
Capaian tersebut menjadi pembalikan arah yang signifikan dibandingkan triwulan pertama 2026 ketika pasar keuangan domestik masih mengalami arus keluar modal asing bersih sebesar 0,8 miliar dolar AS.
Konflik Timur Tengah Masih Bayangi Ekonomi Dunia
Bank Indonesia menilai risiko global masih belum sepenuhnya mereda meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan sementara pada 14 Juni 2026 terkait upaya penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Ketegangan yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah memicu gangguan pada rantai pasok internasional serta menghambat aktivitas perdagangan global.
Dampak dari konflik tersebut turut menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Perekonomian global sepanjang tahun 2026 diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3 persen, sementara inflasi dunia diproyeksikan meningkat hingga mendekati 4,4 persen.
Situasi tersebut mendorong sejumlah bank sentral dunia untuk mengambil kebijakan suku bunga yang lebih ketat guna mengendalikan kenaikan harga.
Bank Indonesia juga mencermati potensi kenaikan Fed Funds Rate oleh bank sentral Amerika Serikat seiring masih tingginya risiko inflasi di negara tersebut.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tetap berada pada level tinggi, yakni 4,49 persen untuk tenor 10 tahun dan 4,18 persen untuk tenor dua tahun per 17 Juni 2026.
Kondisi tersebut membuat investor global masih cenderung menempatkan dana pada aset yang dianggap lebih aman di negara maju dibandingkan pasar negara berkembang.
BI Minta Kewaspadaan dan Sinergi Kebijakan
Menurut Perry Warjiyo, perkembangan situasi geopolitik dunia masih dapat berubah sewaktu-waktu sehingga membutuhkan respons kebijakan yang cepat dan terukur.
“Ke depan, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan penyelesaian konflik di Timur Tengah diperkirakan masih dinamis sehingga memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” tutur Perry.
Bank Indonesia menilai kolaborasi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tantangan global yang belum sepenuhnya reda.***