TEHERAN, IRAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah serangkaian serangan militer memicu saling tuding pelanggaran gencatan senjata yang baru disepakati di Swiss.
Pemerintah Iran secara tegas mengecam aksi militer terbaru Washington. Mereka menilai langkah tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata dan nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya telah ditandatangani kedua pihak.
Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak menunjukkan komitmen terhadap hasil perundingan yang telah dicapai.
“Pelanggaran gencar terhadap gencatan senjata ini, seperti yang selalu terjadi, hanya akan berujung pada kemunduran dan penyesalan di pihak mereka,” kata Azizi seperti dikutip Al Jazeera.
“Saling menyalahkan tidak lagi berhasil,” tambahnya melalui akun X miliknya.
Situasi memanas setelah Korps Garda Revolusi Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah target milik Amerika Serikat di kawasan Teluk pada Sabtu (27/6). Serangan tersebut disebut sebagai respons langsung atas gempuran yang lebih dulu dilakukan oleh militer AS di wilayah Iran.
Pihak Garda Revolusi menegaskan, respons yang diberikan masih terbatas. Mereka memperingatkan akan melakukan serangan yang lebih besar jika agresi kembali terjadi.
“Jika agresi tersebut terulang, tanggapan kami akan lebih luas daripada ini,” ujar pernyataan resmi mereka, dikutip dari AFP.
Sebelumnya, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi telah melancarkan serangan ke sejumlah titik strategis di Iran pada Jumat. Operasi itu disebut sebagai respons atas ancaman terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
“Sebuah pesawat AS menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta fasilitas radar di pesisir pantai,” ujar CENTCOM, melansir Anadolu.
Seorang pejabat senior AS mengungkapkan, sedikitnya empat target di sepanjang pesisir Iran, termasuk wilayah dekat Selat Hormuz dan Pulau Qeshm, diserang menggunakan enam pesawat tempur.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah meluncurkan sedikitnya empat drone serang ke arah kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Menurutnya, tiga drone berhasil dicegat, sementara satu lainnya menghantam kapal kargo dan menyebabkan kerusakan.
Melalui akun media sosialnya, Truth Social, Trump menyebut serangan tersebut sebagai “pelanggaran bodoh” terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Wakil Presiden AS JD Vance turut memperingatkan Iran agar tidak memperluas konflik. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan kekerasan akan mendapat balasan setimpal.
“Iran telah menandatangani perjanjian gencatan senjata. Kami telah menghormatinya. Jika mereka telah memiliki perbedaan pendapat tentang bagaimana nota kesepahaman (MoU) diterapkan, mereka dapat menghubungi kami melalui telepon,” tulis Vance dalam unggahan media sosialnya.
Hingga kini, situasi di kawasan Teluk masih berada dalam ketegangan tinggi. Jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz yang vital bagi distribusi energi global juga terus berada dalam pengawasan ketat di tengah potensi eskalasi konflik.