TEHERAN, IRAN – Selat Hormuz kembali menjadi titik panas konflik Timur Tengah setelah sebuah kapal kontainer dilaporkan diserang pada Kamis (25/6) waktu setempat. Insiden ini berdampak langsung pada operasi kemanusiaan, memaksa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menangguhkan sementara upaya evakuasi ribuan pelaut yang terjebak di jalur pelayaran strategis tersebut.
Laporan sejumlah media Amerika Serikat, termasuk The New York Times, yang mengutip Reuters dan AFP pada Jumat (26/6/2026), menyebutkan bahwa Iran diduga berada di balik serangan terhadap kapal kontainer di kawasan itu. Meski belum ada klaim resmi dari Teheran, otoritas pelayaran Iran langsung mengeluarkan peringatan pascakejadian.
Empat sumber keamanan yang dikutip Reuters mengidentifikasi kapal yang menjadi sasaran sebagai Ever Lovely, berbendera Singapura. Kapal tersebut diduga diserang menggunakan drone saat melintas di perairan sempit yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi global.
Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) menegaskan bahwa setiap kapal yang tidak mengikuti prosedur resmi tidak akan mendapatkan jaminan keamanan. Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial X, PGSA menyatakan, “Setiap perlintasan melalui rute di luar kerangka kerja yang ditetapkan oleh PGSA tidak akan tercakup dalam jaminan perlintasan yang aman.”
Ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya mengeluarkan peringatan keras kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin. IRGC menegaskan bahwa pelanggaran terhadap aturan tersebut akan berujung tindakan tegas.
Sementara itu, badan keamanan maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan bahwa kapal mengalami kerusakan pada bagian anjungan. Namun, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Serangan terjadi sekitar 14 kilometer dari lepas pantai Oman, mempertegas kerawanan wilayah itu di tengah konflik yang belum mereda.
Dampak langsung dari serangan ini dirasakan oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO). Badan maritim di bawah PBB itu memutuskan untuk menunda pelaksanaan evakuasi terhadap sekitar 11.000 pelaut yang sebelumnya direncanakan keluar dari zona konflik.
Padahal, awal pekan ini IMO telah mulai menjalankan rencana evakuasi terhadap ratusan kapal dan awaknya yang terjebak akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Rencana tersebut muncul setelah adanya kesepakatan awal antara Washington dan Teheran untuk meredakan ketegangan.
“Saya telah memutuskan untuk menunda sementara pelaksanaannya (rencana evakuasi) guna memastikan kembali bahwa jaminan keselamatan yang diperlukan tetap tersedia bagi kapal-kapal dalam daftar evakuasi kami maupun semua kapal lainnya di wilayah tersebut,” ujar Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez.
Dominguez juga menegaskan bahwa kapal yang diserang tidak termasuk dalam skema evakuasi yang tengah dijalankan IMO.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat melalui Gedung Putih mengaku tengah menelaah laporan serangan tersebut. Seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya menegaskan posisi Washington tetap tegas.
“Presiden Donald Trump telah menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengganggu kelancaran lalu lintas di selat tersebut,” ujarnya.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, yang menjadi penghubung utama distribusi minyak global. Gangguan di wilayah ini berpotensi memicu dampak luas terhadap stabilitas ekonomi internasional.
Insiden terbaru ini semakin mempertegas rapuhnya situasi keamanan di kawasan, sekaligus menimbulkan kekhawatiran baru terhadap keselamatan pelayaran internasional di tengah konflik geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda.