JAKARTA – Penyanyi asal Inggris, Dua Lipa, meresmikan Manifesto Library di Porto, Portugal, Sabtu (27/6/2026). Perpustakaan ini lahir dari kolaborasi antara Service95 Book Club yang ia dirikan dengan toko buku bersejarah Livraria Lello.
Dua Lipa menyebut perpustakaan tersebut sebagai impian lama yang akhirnya terwujud. “Ketika saya mendirikan Klub Buku Service95, ambisi saya adalah agar klub ini menjadi rumah bagi penulis dan pembaca—di mana pun mereka berada dan apa pun keadaan mereka,” ujarnya, dikutip dari Rolling Stones, Rabu (1/7/2026).
Manifesto Library menjadi bagian dari festival literasi BABELL – City of Books dan akan menjadi koleksi permanen di Livraria Lello. Perpustakaan ini menghadirkan sekitar 100 buku yang pernah dilarang, disensor, atau dibatasi peredarannya di berbagai negara. Koleksi tersebut mengangkat tema sensitif seperti ras, seksualitas, identitas, hingga kritik terhadap kekuasaan.
Head of Brand Livraria Lello, Francisca Pedro Pinto, menekankan bahwa buku adalah simbol kebebasan. “Karena yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan membaca, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk membayangkan, menafsirkan, dan membangun masa depannya sendiri,” katanya.
Dua Lipa menambahkan, “Perpustakaan ini adalah tempat suci bagi buku-buku yang telah hilang, bagi para penulis yang berani mengungkap struktur kekuasaan, dan bagi para pembaca yang menolak diberi tahu buku apa yang boleh mereka baca.”
Beberapa judul yang tersedia antara lain The Handmaid’s Tale karya Margaret Atwood, Felon karya Reginald Dwayne Betts, serta karya dari Salman Rushdie dan Olga Tokarczuk. Koleksi dikurasi dalam empat tema utama: power, control, voice, dan memory.
Manifesto Library menjadi simbol perlawanan terhadap sensor sekaligus penghormatan bagi keberanian para penulis yang mempertahankan kebebasan berekspresi.