JAKARTA – Para ilmuwan mengonfirmasi bahwa bulan Juni 2026 menjadi bulan terpanas bagi samudra dunia. Suhu permukaan laut rata-rata global mencapai 20,98 derajat Celsius, melampaui rekor 2023 dan 2024, menurut Copernicus Marine Service Uni Eropa.
Catatan ini menandai enam bulan berturut-turut suhu laut yang hampir belum pernah terjadi sebelumnya, dengan gelombang panas laut meluas hingga memengaruhi 82 persen samudra dunia—cakupan terbesar kedua setelah 2024. Rata-rata suhu laut paruh pertama tahun ini tercatat 20,04 derajat, sedikit di bawah rekor periode yang sama pada 2024.
Carlo Buontempo, Direktur Copernicus Climate Change Service, menyebut kondisi ini bisa menjadi awal fase baru. “Dengan suhu laut pada level ini dan El Niño di depan mata, kemungkinan kita akan melihat lebih banyak rekor suhu terpecahkan dalam beberapa bulan mendatang,” ujarnya, dilansir Hurriyet Dailyn News, Kamis (2/7/2026).
El Niño, yang ditandai dengan pemanasan luar biasa di Samudra Pasifik, diperkirakan akan memperburuk cuaca ekstrem: banjir di Peru, kekeringan di Afrika, hingga kebakaran hutan di Australia. Simon Van Gennip, Kepala Oseanografi Copernicus, menegaskan bahwa kombinasi El Niño dan emisi gas rumah kaca akan membuat 2026 menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat.
Lautan, yang menyerap 90 persen panas berlebih akibat emisi manusia, kini berada dalam “krisis semakin parah” menurut laporan PBB. Dampaknya mencakup kenaikan permukaan laut, siklon tropis lebih kuat, curah hujan ekstrem, hingga ancaman serius bagi terumbu karang tropis yang memutih dan mati akibat gelombang panas berkepanjangan.
Fenomena ini menegaskan bahwa pemanasan global bukan lagi prediksi, melainkan kenyataan yang terus mendorong bumi ke batas kemampuannya.