JAKARTA — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat sistem irigasi pertanian di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, untuk menjaga pasokan air ketika El Nino memicu kondisi kering berkepanjangan.
Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dirancang menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian sekaligus menopang produktivitas petani.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan JIAT menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan di tengah ancaman kekeringan.
“Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air. Sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” kata Menteri Dody dalam keterangan tertulis yang dikutip Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurut Dody, pembangunan JIAT tidak sebatas menyediakan sumur bor dan pompa untuk mengambil air tanah, tetapi juga mencakup jaringan saluran tersier agar air dapat dialirkan secara lebih optimal ke area persawahan.
Dua Desa Mendapat Dukungan Irigasi
Salah satu fasilitas JIAT berada di Desa Bawahan Seberang, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar, dengan jaringan sepanjang satu kilometer.
Fasilitas tersebut mampu memasok air untuk lahan pertanian seluas 10,71 hektare dengan debit sekitar tiga liter per detik.
Sementara itu, JIAT lainnya dibangun Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Banjarmasin di Desa Bawahan Selan dengan panjang jaringan mencapai 760 meter.
Sistem tersebut memanfaatkan sumur berkedalaman 126 meter untuk mengairi lahan pertanian seluas 13,30 hektare.
Dengan demikian, kedua jaringan JIAT tersebut secara keseluruhan mendukung pengairan lebih dari 24 hektare lahan pertanian di Kabupaten Banjar.
Petani Berpeluang Tingkatkan Intensitas Tanam
Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Bawahan Selan, Waluyo, menilai kehadiran JIAT membuka peluang bagi petani untuk memperbanyak siklus produksi dalam setahun.
“Mudah-mudahan dengan adanya bantuan dari Kementerian PU ini bisa meningkatkan taraf hidup petani yang ada di Desa Bawahan Selan. Tadinya kita hanya menanam padi setahun sekali, sekarang bisa menjadi dua kali, syukur-syukur bisa menjadi tiga kali,” ujarnya.
Peningkatan intensitas tanam menjadi peluang penting bagi petani karena ketersediaan air merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberlanjutan produksi pertanian.
Selama ini, ketergantungan terhadap hujan membuat kegiatan bercocok tanam menghadapi risiko lebih besar ketika musim kemarau berlangsung panjang.
JIAT Beroperasi dengan Listrik dan Genset
Dalam pengoperasiannya, JIAT menggunakan tenaga listrik untuk menjalankan sistem pemompaan air dari dalam tanah menuju jaringan irigasi.
Kementerian PU juga menyiapkan genset sebagai sumber energi cadangan sehingga sistem tetap memiliki dukungan operasional ketika pasokan listrik utama terganggu.
Selain menunjang kebutuhan irigasi, air dari fasilitas tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakat di sekitar kawasan pertanian.
Pengembangan infrastruktur air tanah ini menjadi langkah antisipatif agar sektor pertanian tidak sepenuhnya bergantung pada curah hujan selama periode kering.
Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Kementerian PU menempatkan pembangunan JIAT sebagai bagian dari upaya memperkuat infrastruktur pendukung ketahanan pangan nasional.
Ketersediaan air yang lebih terjamin diharapkan mampu menjaga lahan tetap produktif sekaligus memberi ruang bagi petani meningkatkan frekuensi penanaman.
Di tengah ancaman El Nino dan potensi musim kemarau panjang, keberadaan jaringan irigasi menjadi semakin strategis untuk mempertahankan produksi pangan.
Program tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung agenda pemerintah dalam memperkuat swasembada pangan nasional melalui pembangunan infrastruktur pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi iklim.***



