JAKARTA – Sejarah semifinal Piala Dunia FIFA selalu menyimpan kisah unik yang tak terlupakan. Dari aksi heroik hingga momen emosional, sejumlah legenda sepak bola pernah mencatat cerita dramatis di panggung empat besar.
Pada edisi 1938 di Prancis, Italia menyingkirkan Brasil 2-1 lewat penalti Giuseppe Meazza. Namun, eksekusi itu diwarnai insiden celana robek yang membuat sang penyerang harus menahan celananya dengan satu tangan sambil tetap mencetak gol.
Di Cile 1962, Garrincha tampil luar biasa dengan dua gol dan satu assist saat Brasil menundukkan tuan rumah 4-2. Meski mendapat kartu merah, publik Cile justru memprotes agar sang bintang tetap diizinkan tampil di final.
Semifinal Spanyol 1982 dikenang lewat insiden keras Toni Schumacher yang membuat Patrick Battiston cedera parah. Meski tanpa hukuman, Schumacher justru menjadi pahlawan Jerman Barat dengan penyelamatan krusial di adu penalti.
Italia 1990 melahirkan “Gazzamania” ketika Paul Gascoigne menangis setelah menerima kartu kuning yang membuatnya terancam absen di final. Tangisan itu justru menjadikannya pahlawan nasional Inggris.
Prancis 1998 menghadirkan kejutan Lilian Thuram. Bek kanan yang jarang mencetak gol justru memborong dua gol untuk membawa Les Bleus menang 2-1 atas Kroasia, membuat ibunya di tribun sampai pingsan karena tak percaya.
Di Korea/Jepang 2002, Ronaldo mengalihkan perhatian publik dari cederanya dengan gaya rambut ikonik. Ia kemudian mencetak gol tunggal melawan Turki yang mengantar Brasil ke final.
Sementara itu, Jerman 2006 menjadi panggung Fabio Cannavaro. Meski kalah tinggi 22 sentimeter dari Per Mertesacker, sang bek Italia memenangkan duel udara dan memicu serangan balik yang berujung gol Alessandro Del Piero, memastikan langkah Italia ke final.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa semifinal Piala Dunia bukan hanya soal strategi dan skor, tetapi juga drama, emosi, dan momen tak terduga yang abadi dalam sejarah sepak bola.