GAZA, PALESTINA – Serangan udara Israel kembali menghantam infrastruktur sipil di Jalur Gaza. Kali ini, sebuah kantor polisi di kawasan kamp pengungsian menjadi sasaran serangan drone yang menewaskan sedikitnya tujuh petugas kepolisian, termasuk pimpinan kantor polisi setempat.
Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran akan semakin memburuknya situasi keamanan di Gaza, terutama setelah serangkaian serangan yang menyasar fasilitas penegakan hukum dinilai berpotensi memperbesar kekosongan otoritas di wilayah yang telah lama dilanda konflik.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, Selasa (14/7/2026), serangan dilakukan menggunakan drone Israel yang menembakkan empat rudal ke bangunan kantor polisi. Bangunan itu berada di kawasan yang berdekatan dengan pasar di tengah kamp pengungsian, lokasi yang setiap hari dipadati warga sipil.
Korban tewas terdiri atas kepala kantor polisi, wakil kepala kantor, serta lima personel lainnya yang tengah menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Tujuh petugas polisi tewas, termasuk kepala kantor polisi, wakilnya, dan lima lainnya. Tugas mereka adalah menjaga ketertiban dan keamanan di area yang dikenal sebagai pasar di tengah-tengah kamp pengungsian.”
Serangan Dinilai Sengaja Sasar Infrastruktur Penegakan Hukum
Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari pola serangan berulang terhadap fasilitas kepolisian di Jalur Gaza. Kantor-kantor polisi menjadi salah satu sasaran yang terus dibombardir di tengah berlangsungnya operasi militer Israel.
Pengamat menilai rusaknya institusi penegakan hukum dapat memperparah kondisi keamanan di Gaza. Hilangnya aparat keamanan di berbagai wilayah berpotensi memicu meningkatnya kekacauan, kriminalitas, hingga sulitnya distribusi bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak perang.
Menurut laporan Al Jazeera, ini bukan kali pertama gedung kepolisian menjadi target serangan. Rentetan serangan terhadap fasilitas keamanan dinilai memperlemah struktur pemerintahan sipil yang masih berfungsi di sejumlah wilayah Gaza.
Korban Terus Bertambah Meski Gencatan Senjata Berlaku
Di sisi lain, Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan jumlah korban jiwa terus meningkat meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober tahun lalu.
Dalam pernyataan resminya, lembaga tersebut menyebut sedikitnya **1.122 orang meninggal dunia akibat serangan Israel sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Selain itu, 3.599 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
“Sebanyak 1.122 orang telah tewas dan 3.599 lainnya terluka akibat serangan tentara Israel sejak gencatan senjata diberlakukan.”
Kantor Media Pemerintah Gaza juga mengklaim telah mendokumentasikan 3.689 dugaan pelanggaran yang dilakukan militer Israel selama periode gencatan senjata tersebut.
Kekhawatiran Krisis Keamanan Semakin Meluas
Serangan terhadap kantor polisi memunculkan kekhawatiran baru mengenai semakin rapuhnya sistem keamanan internal di Jalur Gaza. Aparat kepolisian selama ini berperan menjaga ketertiban di pasar-pasar, kamp pengungsian, serta mengamankan distribusi bantuan bagi warga sipil.
Dengan berkurangnya personel dan rusaknya fasilitas kepolisian, berbagai pihak menilai risiko terjadinya kekosongan otoritas akan semakin besar di tengah krisis kemanusiaan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Konflik berkepanjangan di Gaza telah menyebabkan kerusakan luas terhadap infrastruktur sipil, sementara korban jiwa terus bertambah di tengah situasi keamanan yang masih sangat dinamis. Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak militer Israel terkait serangan terhadap kantor polisi tersebut.