RIYAD, ARAB SAUDI – Ketegangan di Timur Tengah kembali menunjukkan tanda-tanda eskalasi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan memberikan dukungan kepada Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) untuk melancarkan operasi militer terhadap kelompok Houthi di Yaman.
Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Jika benar terjadi, dukungan Washington kepada Riyadh berpotensi mengakhiri periode tenang yang telah berlangsung selama beberapa tahun di perbatasan Arab Saudi-Yaman sekaligus membuka babak baru konflik kawasan.
Serangan udara yang dilancarkan Arab Saudi ke Bandara Internasional Sanaa pada Senin (13/7) dinilai menjadi perkembangan paling signifikan dalam konflik Yaman sejak 2022. Aksi tersebut disebut sebagai eskalasi lintas batas paling serius setelah kedua pihak menjalani gencatan senjata tidak resmi selama hampir empat tahun.
MBS Disebut Lebih Dulu Minta Restu Trump
Menurut laporan Axios yang mengutip dua pejabat Amerika Serikat, rangkaian komunikasi tingkat tinggi antara Riyadh dan Washington berlangsung beberapa hari sebelum serangan tersebut dilakukan.
Pemerintah Arab Saudi disebut lebih dahulu menyampaikan kekhawatiran mengenai perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah, khususnya ancaman dari kelompok Houthi, di tengah memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada Kamis pekan lalu, Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di Washington. Sehari kemudian, Rubio melanjutkan komunikasi diplomatik melalui pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan.
Setelah serangkaian pembicaraan itu, Presiden Donald Trump dikabarkan melakukan percakapan melalui sambungan telepon dengan Mohammed bin Salman pada Jumat.
Seorang pejabat Amerika Serikat yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan bahwa MbS secara langsung meminta dukungan Washington sebelum memulai operasi militer terhadap Houthi.
“MBS meminta dukungan Trump untuk operasi militer terhadap Houthi dan memperoleh persetujuan darinya,” kata seorang pejabat AS, sebagaimana dikutip Axios.
Informasi tersebut menunjukkan bahwa Riyadh tidak ingin mengambil langkah militer besar tanpa terlebih dahulu memperoleh dukungan politik dari pemerintahan Amerika Serikat.
Saudi Antisipasi Konflik Lebih Besar
Permintaan dukungan kepada Washington juga dinilai mencerminkan kekhawatiran Arab Saudi terhadap kemungkinan pecahnya perang yang lebih luas dengan kelompok Houthi.
Kelompok Houthi selama ini dikenal sebagai sekutu Iran dan menjadi salah satu aktor utama dalam konflik Yaman. Jika konfrontasi kembali meningkat, Arab Saudi diperkirakan akan membutuhkan dukungan militer, intelijen, maupun diplomatik dari Amerika Serikat.
Langkah konsultasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Riyadh memperhitungkan risiko apabila operasi militer berkembang menjadi konflik regional yang melibatkan lebih banyak pihak.
Gedung Putih Tak Bantah, Trump Kembali Kritik Iran
Saat dimintai tanggapan mengenai laporan tersebut, Gedung Putih tidak memberikan konfirmasi maupun bantahan secara langsung.
Pihak Gedung Putih hanya merujuk pada wawancara Presiden Donald Trump dengan Fox News pada Senin pagi.
Dalam wawancara tersebut, Trump tidak menyinggung secara spesifik serangan Arab Saudi ke Yaman. Namun, ia kembali melontarkan kritik keras terhadap Iran, seiring berlanjutnya ketegangan antara Washington dan Teheran meski sebelumnya telah ada upaya gencatan senjata serta nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri konflik.
Sementara itu, Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi mengenai laporan bahwa MbS lebih dahulu meminta restu kepada Trump sebelum operasi militer dilaksanakan.
Serangan ke Bandara Sanaa Jadi Sinyal Berakhirnya Gencatan Senjata
Serangan terhadap Bandara Sanaa dipandang sebagai sinyal bahwa situasi keamanan di Yaman kembali memasuki fase yang lebih berbahaya.
Sejak 2022, Arab Saudi dan Houthi mempertahankan gencatan senjata secara de facto yang berhasil menurunkan intensitas serangan lintas batas. Namun, operasi terbaru tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa kesepakatan tidak resmi itu mulai runtuh.
Apabila konflik kembali pecah dalam skala penuh, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan di Yaman, tetapi juga berpotensi memperluas ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Risiko Konflik Regional Meningkat
Potensi kembalinya perang antara Arab Saudi dan Houthi dinilai dapat memperumit situasi keamanan kawasan yang saat ini telah dipenuhi berbagai konflik.
Selain memperbesar risiko bentrokan langsung antara Riyadh dan Houthi, eskalasi tersebut juga berpotensi memperluas rivalitas antara Amerika Serikat dan Iran yang selama ini berada di balik berbagai dinamika konflik di Timur Tengah.
Dengan posisi Houthi sebagai kelompok yang mendapat dukungan Iran, keterlibatan lebih besar Arab Saudi yang didukung Amerika Serikat dikhawatirkan memicu konflik regional yang lebih luas dan semakin mengancam stabilitas kawasan.