JAKARTA – TNI Angkatan Udara (TNI AU) mengirim lima jet tempur T-50i Golden Eagle ke Australia untuk mengikuti latihan udara multinasional yang melibatkan 20 negara pada 17 Juli–7 Agustus 2026. Ajang bergengsi ini menjadi momentum menguji kemampuan tempur sekaligus memperkuat kerja sama pertahanan Indonesia.
Keikutsertaan lima pesawat tempur dari Skadron Udara 15 itu menjadi bagian dari upaya TNI AU meningkatkan profesionalisme penerbang dalam menghadapi operasi udara modern yang semakin kompleks. Selain mengasah kemampuan taktis, latihan ini juga membuka peluang memperkuat interoperabilitas dengan angkatan udara negara sahabat.
Kontingen TNI AU diberangkatkan langsung oleh Panglima Komando Operasi Udara (Pangkoopsau) Marsda TNI Djoko Hadipurwanto dari Lanud Iswahjudi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada Rabu (15/7).
Dalam arahannya, Marsda TNI Djoko menegaskan bahwa latihan di Darwin merupakan salah satu agenda latihan udara paling prestisius karena mempertemukan kekuatan udara dari sekitar 20 negara. Oleh karena itu, seluruh personel diminta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menunjukkan kualitas prajurit TNI AU di tingkat internasional.
Menurutnya, latihan multinasional bukan sekadar menguji kemampuan mengoperasikan pesawat tempur, tetapi juga menjadi sarana memperluas pengalaman dalam menghadapi berbagai skenario operasi udara bersama yang melibatkan beragam sistem persenjataan dan prosedur militer dari berbagai negara.
Ia juga mengingatkan seluruh penerbang dan personel pendukung agar tetap mengedepankan disiplin serta mematuhi standar keselamatan selama seluruh rangkaian latihan berlangsung.
“Seluruh personel memanfaatkan latihan sebagai sarana meningkatkan kapasitas, memperluas wawasan serta memperkaya pengalaman dalam operasi udara modern, dengan tetap mengutamakan keamanan serta keselamatan terbang dan kerja,” kata Marsda TNI Djoko Hadipurwanto.
Penekanan terhadap aspek keselamatan tersebut dinilai menjadi fondasi utama dalam setiap operasi penerbangan militer. Dengan menjaga standar keamanan yang tinggi, para penerbang diharapkan mampu menyelesaikan seluruh skenario latihan secara optimal tanpa mengabaikan prosedur keselamatan terbang.
Selain meningkatkan kualitas sumber daya manusia, latihan di Negeri Kangguru juga diharapkan memperkuat kemampuan interoperabilitas TNI AU dengan angkatan udara negara-negara peserta. Pengalaman berlatih bersama berbagai kekuatan udara dunia menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan keamanan kawasan yang terus berkembang.
Marsda TNI Djoko menilai kehadiran Indonesia dalam latihan berskala internasional juga memiliki nilai strategis dari sisi diplomasi pertahanan. Partisipasi aktif TNI AU mencerminkan komitmen Indonesia dalam membangun hubungan yang semakin erat dengan negara-negara sahabat melalui kerja sama militer yang profesional dan saling menguntungkan.
Ia berharap keterlibatan TNI AU pada latihan tersebut semakin meningkatkan kepercayaan dunia internasional terhadap kemampuan angkatan udara Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam berbagai forum kerja sama pertahanan regional maupun global.
Dengan mengirimkan lima jet tempur T-50i Golden Eagle beserta penerbang terbaiknya, TNI AU membawa misi yang lebih luas daripada sekadar mengikuti latihan. Kehadiran Indonesia di salah satu latihan udara terbesar di kawasan Indo-Pasifik menjadi wujud kesiapan TNI AU dalam meningkatkan kemampuan tempur, memperluas pengalaman operasi udara modern, serta memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi pertahanan internasional.