JAKARTA – Air minum yang bersih merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar untuk menjaga kesehatan, terutama bagi anak-anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan. Namun, kualitas air yang dikonsumsi sering kali luput dari perhatian. Padahal, air yang telah terkontaminasi bakteri dapat menjadi sumber berbagai penyakit infeksi yang berisiko mengganggu penyerapan nutrisi dan pada akhirnya meningkatkan peluang terjadinya stunting pada anak.
Stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama. Selain dipengaruhi oleh asupan makanan, kondisi ini juga berkaitan erat dengan sanitasi dan akses terhadap air minum yang aman. Karena itu, menjaga kualitas air menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan stunting.
Hubungan Air Tercemar dengan Stunting
Menurut Kementerian Kesehatan RI, stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi, tetapi juga infeksi berulang yang berasal dari lingkungan yang tidak sehat. Salah satu penyebab infeksi tersebut adalah konsumsi air yang telah terkontaminasi mikroorganisme berbahaya seperti bakteri Escherichia coli (E. coli) dan bakteri coliform.
Ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui air minum, risiko terjadinya diare, infeksi saluran pencernaan, hingga gangguan penyerapan nutrisi menjadi lebih tinggi. Jika kondisi tersebut terjadi berulang, tubuh anak akan kesulitan menyerap zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan sehingga berpotensi mengalami stunting.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebutkan bahwa air minum yang aman, sanitasi yang layak, dan kebiasaan hidup bersih merupakan faktor penting dalam menurunkan angka stunting di berbagai negara.
Kontaminasi Bisa Terjadi di Mana Saja
Air yang tampak jernih belum tentu bebas dari bakteri. Kontaminasi dapat terjadi pada berbagai sumber air, termasuk air sumur, air perpipaan, hingga air minum isi ulang apabila proses pengolahan, penyimpanan, atau distribusinya tidak memenuhi standar kebersihan.
Depot air minum isi ulang, misalnya, harus menjalankan proses penyaringan, sterilisasi, dan pemeriksaan kualitas air secara berkala. Jika peralatan tidak dibersihkan dengan baik atau sumber air bakunya telah tercemar, bakteri dapat berkembang dan mencemari air yang dikonsumsi masyarakat.
Selain itu, wadah atau galon yang jarang dicuci juga berpotensi menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme. Oleh sebab itu, kebersihan kemasan sama pentingnya dengan kualitas air di dalamnya.
Anak Menjadi Kelompok yang Paling Rentan
Bayi dan anak-anak memiliki daya tahan tubuh yang belum sekuat orang dewasa. Akibatnya, mereka lebih mudah mengalami gangguan kesehatan ketika mengonsumsi air yang telah tercemar bakteri.
Infeksi saluran cerna yang terjadi berulang dapat menyebabkan kehilangan cairan, menurunnya nafsu makan, hingga terganggunya penyerapan protein, vitamin, dan mineral penting. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan fisik maupun kemampuan kognitif anak.
Tak hanya itu, anak yang mengalami stunting juga berisiko memiliki prestasi belajar yang lebih rendah, daya tahan tubuh yang lemah, hingga produktivitas yang menurun ketika dewasa.
Cara Memastikan Air Tetap Aman Dikonsumsi
Masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko kontaminasi bakteri pada air minum. Salah satunya adalah memilih sumber air yang telah memenuhi standar kesehatan dan memastikan depot air minum isi ulang memiliki izin operasional serta menjaga kebersihan peralatannya.
Jika menggunakan air sumur atau sumber air sendiri, lakukan pemeriksaan kualitas air secara berkala, terutama apabila lokasi sumur berdekatan dengan septic tank atau saluran pembuangan limbah.
Selain itu, galon air minum sebaiknya dibersihkan sebelum diisi ulang dan disimpan di tempat yang bersih serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Air yang akan dikonsumsi bayi juga dianjurkan dimasak hingga mendidih apabila sumber airnya belum dipastikan benar-benar aman.
Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menyiapkan makanan dan setelah menggunakan toilet juga menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran bakteri.
Pencegahan Stunting Harus Dilakukan Secara Menyeluruh
Upaya mencegah stunting tidak cukup hanya dengan memberikan makanan bergizi. Kementerian Kesehatan menekankan bahwa pemenuhan gizi harus disertai dengan akses terhadap air bersih, sanitasi yang layak, serta perilaku hidup bersih dan sehat.
Pemerintah juga terus mendorong berbagai program penyediaan air minum yang aman, peningkatan sanitasi lingkungan, hingga edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan air yang dikonsumsi setiap hari.
Dengan memastikan air minum bebas dari kontaminasi bakteri, risiko penyakit infeksi dapat ditekan sehingga anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat dan optimal. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak menganggap remeh kualitas air yang diminum, karena air yang tampak bersih belum tentu aman jika belum dipastikan bebas dari mikroorganisme berbahaya. (ACH)